Pages

  • Home
  • BOOK REVIEW
  • FILM
  • MUSIC
  • TRAVEL
  • GAME
  • KULINER
Facebook Instagram Google + E-mail

Dream Liner


Fenomena Korean wave memang sedang tren di berbagai negara, salah satunya adalah di Indonesia. Tak hanya di industri musik dan drama, Korean hallyu kini sudah masuk ke industri makanan. Selain Mujigae yang menjadi resto Korea pertama yang mendapat sertifikasi halal MUI, ternyata banyak juga resto serupa yang menyajikan makanan ala Korea. Salah satunya adalah Oppa Dosirak. 

Melihat dari Instagram-nya, Oppa Dosirak masih dalam tahap sertifikasi halal MUI. Per Maret 2024, prosesnya sudah mencapai 80%. Semoga proses sertifikasi ini segera terselesaikan agar teman-teman muslim yang ingin mencoba Korean food tidak lagi ragu. 

Kemarin sebelum Ramadan, masih di sekitaran Mall Ciputra, saya dan doi mampir ke Oppa Dosirak. Tempatnya memang nggak begitu luas, tapi syukurnya nggak waiting list. Interior-nya cukup homey, peletakkan meja & kursinya nggak terlalu rapat. Jadi cukup nyaman, nggak dekat banget dengan pengunjung yang lain. 

Kasirnya di bagian depan ya, guys, Jadi pesan dulu, bayar, baru kemudian menunggu pesanan datang, Yah, hampir mirip dengan cara pesan di Solaria. Waktu itu kami memesan Paket Dosirak 7, Fruit Bingsoo (desert khas Korea), Street Tteokbokki (ini gambar di menunya menggoda banget, makanya pesan, wkwk), Sweet Tea dan Honey Citrun Tea. Untuk setiap pemesanan Sweet Tea dan Corn Tea, sudah bisa free refill ya, teman-teman. Namun hanya khusus untuk kedua minuman itu aja, yang lain nggak bisa refill. 

Bagi kalian yang penasaran apa saja menu yang terdapat di Oppa Dosirak, bisa cek di instagram mereka bagian story highlight Menu. Linknya di sini Instagram Oppa Dosirak. 


Paket 7 Dosirak berisi Chicken Teriyaki, Fried Kimchi, Rice + Salad, Side Dish dan bisa tambah soup dengan sedikit tambahan biaya. Ada dua pilihan salad yang bisa dipesan, yaitu Potato Salad dan Green Salad. Untuk Side Dish juga ada dua pilihan, Side Dish A (berisi aneka gorengan seperti hobakjeon—zukini goreng khas Korea, mandu—pangsit khas Korea dan beef sausage). Untuk Side Dish B berisi dakgangjeong—ayam pedas manis Korea dan brokoli. Saat itu, kami memilih Green Salad dan Side Dish B. 

Street Tteokbokki mereka sangat menggugah selera. Berisi potongan kue beras yang kenyal serta irisan odeng yang dimasak dengan saus gochujang. Telur rebus serta zukini gorengnya pun tak kalah enak, apalagi dimakan bersama dengan saus gochujang yang pedas manis. Street Tteokbokki disajikan dalam wajan kecil dengan alat makan berupa sumpit dan sendok panjang ala Korea. Wah, udah kayak di drama favorit kalian ya, guys. 

Untuk rasa makanannya sangat oke. Namun, saya sedikit kecewa dengan Honey Citrun Tea-nya. Dengan harga yang cukup mahal, rasanya kurang istimewa. Hanya seperti rasa teh yang dicampur dengan lemon dan madu. Mungkin memang seperti itu konsepnya, tapi ekspektasi saya terlalu tinggi, wkwk. Untuk Sweet Tea refill-nya sih no comment. 

Terakhir, kami menikmati desert Fruit Bingsoo-nya. Oh ya, karena Fruit Bingsoo ini berupa es krim yang pastinya cepat mencair, kalian bisa request agar desert-nya disajikan belakangan. Yaitu setelah makan utama selesai. Untuk sajian Fruit Bingsoo ini, sebenarnya not bad, namun terasa kurang spesial. Rasa es krim vanilla-nya mirip es krim Mixue yang ditambah dengan potongan buah, wkwk. 

Overall, kami cukup puas menikmati makan siang di Oppa Dosirak. Street Tteokbokki-nya benar-benar patut diacungi jempol. Pelayanan petugasnya pun sangat baik. Sebenarnya, masih banyak menu-menu yang belum kami coba. Mungkin kapan-kapan bisa ke sana lagi untuk review menu yang lain. 

Jadi, tertarik mencoba makanan khas Korea di Oppa Dosirak? 

Oppa Dosirak Ciputra Mall
Alamat : Mal Ciputra - Citraland Mall, Jl. Letjen S. Parman No. 01 11 1 Lt. 5, RT 11/RW 01, Tj. Duren Utara, Kec. Grogol Petamburan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11470
Jam operasional : 
11.00 - 22.00 (khusus hari Jumat : 13.00 - 21.00) 
Harga : 
- start from 35k

*Credit Photo : personal collection by Me (Nira Kunea)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Bulan Oktober kemarin, yang juga bertepatan dengan event Halloween di negara-negara Barat, bioskop-bioskop pun rilis banyak sekali film horor. Mengikuti hype tersebut, saya dan doi memutuskan untuk menonton salah satu film yang berjudul Pamali; Dusun Pocong di Mall Ciputra. Film ini seru banget dan cukup berhasil membuat penonton merinding. 

Nah, selesai menonton film, kami memutuskan untuk membeli makan. Namun, bingung mau makan apa karena bosan makan ke resto itu-itu aja wkwk. Ketika keliling-keliling nggak jelas (masih di lantai atas), kami menemukan salah satu resto kecil di ujung, di dekat Gramedia. Namanya Deuseyo. Restoran ini menyediakan menu Jjigae dan BBQ ala Korea gitu. Bagi yang belum tau, Jjigae merupakan sebutan untuk berbagai macam masakan Korea berupa sup yang dimasak dan dihidangkan di dalam panci kecil. Isinya bisa berupa seafood, sayuran, daging, atau tahu. 
 
Karena nggak antri dan doi juga belum pernah nyobain BBQ, akhirnya kami memutuskan untuk makan di resto ini. Deuseyo menyediakan berbagai macam paket Jjigae BBQ dan ada juga menu rice bowl. Harga mulai dari 85k - 120k untuk paket Jjigae BBQ dan 27k - 40k untuk rice bowl. Untuk lebih lengkapnya, bisa lihat foto menu di bawah ini, ya, gengs ~
 


Saya dan doi memesan BBQ Jjigae 3 yang isinya beef & chicken combo (mungkin sekitar 100gr), Jjigae set (berisi bakso-baksoan, mie keriting, pakcoy, jamur, sawi, jagung muda dan wortel) serta condiment berupa bawang putih, kimchi, gogumo mattang (ubi karamel ala Korea) dan saus-sausan (gochujang, kecap asin & minyak wijen). Paket sudah termasuk minum berupa ocha dan lemon tea yang bisa refill sepuasnya. Oh ya, kuahnya juga bisa refill tanpa perlu bayar lagi. Apabila mau tambah daging atau nasi juga bisa, tapi bayar terpisah ya, guys.


TBH, tempatnya sempit menurut saya. Hanya ada satu meja untuk berenam, satu meja untuk berempat dan dua meja untuk berdua yang letaknya berdekatan. Jadi, mungkin agak kurang nyaman kalau kondisi resto lagi full. Tapi, restonya ini bersih banget dan ada beberapa ornamen-ornamen yang membuat suasana nggak begitu boring. Selain itu, tempatnya nggak bau asap karena alat penyedot asapnya berfungsi dengan baik dan tidak berisik. 
 
Overall, kalau lagi nggak banyak pengunjung, tempatnya cukup nyaman untuk makan bareng doi karena suasananya seperti private. Makanannya enak dan sayurannya pun fresh. Bagi yang nggak bisa makan banyak, Deuseyo merupakan pilihan yang tepat. Karena mereka menyajikan BBQ dalam bentuk paket, jadi porsinya tidak berlebihan. Apabila masih kurang, bisa tambah menu lain secara terpisah. 
 
Jadi, kapan kalian mau nyobain Deuseyo?
 
Deuseyo Korean BBQ & Jjigae
Alamat : Mal Ciputra - Citraland Mall, Jl. Letjen S. Parman No.07 Lt. 5, RT.11/RW.1, Tj. Duren Utara, Kec. Grogol petamburan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11470
Jam operasional : 
11.00 - 21.00 (khusus hari Jumat : 13.00 - 21.00) 
Harga : 
- paket BBQ start from 85k 
- rice bowl start from 27k  
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Kayaknya bulan Oktober ini memang lagi hype banget film horor ya, guys. Banyak film horor yang rilis di bioskop. Sebut saja di antaranya Di Ambang Kematian, Bangku Kosong: Ujian Terakhir, Janin Iblis Neraka, Indigo, Pamali: Dusun Pocong dan The Exorcist. Mengikuti hype tersebut, akhirnya saya dan doi memutuskan untuk menonton salah satu film tersebut di akhir pekan. Yup, pilihan kami akhirnya jatuh kepada Pamali: Dusun Pocong. Berikut detail filmnya :

Jenis Film: Horror
Produser: Andi Suryanto, Marcella Daryanani, Willy Suryanto
Sutradara: Bobby Prasetyo
Penulis: Evelyn Afnilia
Produksi: LYTO Pictures
Casts: Fajar Nugra, Yasamin Jasem, Dea Panendra, Bukie B. Mansyur, Arla Ailani, Anantya Kirana
Durasi Film: 99 menit
 
Film ini menceritakan tentang tiga orang petugas medis (Gendis, Puput dan Mila) dan dua orang penggali kubur (Deden dan Cecep) yang ditugaskan untuk membantu sebuah dusun terpencil yang terkena wabah penyakit. Wabah tersebut berupa penyakit kulit yang menular apabila bersentuhan dengan penderitanya. Setiap hari, banyak warga yang jatuh sakit dan bahkan ada korban meninggal yang sudah beberapa hari belum dikuburkan karena keterbatasan SDM. 

Selain wabah penyakit dan banyaknya korban yang berjatuhan, sejak kedatangan mereka ke dusun tersebut, mereka menyadari bahwa ada sosok lain yang menghantui mereka, yaitu pocong. Awalnya mereka berpikir bahwa pocong tersebut sudah ada sebelum mereka datang, namun ternyata mereka salah. Kemunculan pocong tersebut dikarenakan ada salah satu dari mereka yang melanggar pantangan/ pamali desa tersebut. 

Setiap dusun memiliki adat istiadatnya masing-masing. Begitupun dengan dusun tersebut. Ternyata pantangan/ pamali di dusun itu sedikit berbeda atau bahkan bertentangan dengan pamali pada umumnya. Hal itulah yang menyebabkan kelima orang tersebut tidak sadar bahwa telah melanggar pantangan dan menyebabkan munculnya pocong-pocong gentayangan. 

Ini jumpscare-nya gila banget, sih. Awalnya saya mikir ini film nggak ada serem-seremnya sama sekali. Tapi, setelah mereka sampai di dusun itu, wah. Atmosfer horornya langsung kerasa. Ini vibes-nya mirip-mirip sama KKN Desa Penari, tapi asli, film ini menurut saya jauh lebih serem. Akses menuju dusun tersebut harus menyeberang (entah laut entah danau) yang lumayan luas, jadi kebayang kan betapa terisolir lokasinya. Walaupun listrik sudah masuk ke dusun itu, tapi tetep aja horor. Rumahnya tipe-tipe jaman dulu yang masih terbuat dari kayu dan masih banyak hutan-hutan di sekitarnya. 
 
Peran Fajar Nugra sebagai Cecep (yang dulu juga main di film KKN Desa Penari) sedikit menghibur penonton dengan tingkahnya yang kocak. Ya, walaupun dominan seremnya, tapi ada selingan lucu-lucunya dikitlah, wkwk. 
 
Minusnya, sampai film berakhir, tidak ada penjelasan mengenai asal-usul wabah tersebut. Mungkin bakal ada sequel? Terus, ada beberapa shoot pengambilan film yang agak goyang-goyang sampe bikin saya yang memiliki mata minus ini agak pusing T_T Kemudian, ada beberapa part yang ngeselin, tapi it's okay, bukan film horor namanya kalo nggak bikin penonton geregetan, haha.  
 
Overall, film ini bagus dan serem. Ada salah satu adegan yang bikin saya ikutan teriak bareng sama tokoh saking kagetnya. Jumpscare-nya saya acungi jempol, sih. Gokil. Namun, karena ceritanya tentang wabah penyakit, mungkin ada adegan yang agak disgusting. Buat orang yang agak jijik sama hal-hal kayak gitu, sebaiknya jangan bawa makanan ke dalam, karena pasti nggak akan nafsu makan, wkwk. 
 
Rate: 8/10. 

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Credit Photo : IMDB 
https://www.imdb.com/title/tt27958078/mediaviewer/rm1102732289/


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Terakhir kali ke Girimanik, kalo nggak salah di tahun 2016. Sudah 7 tahun rupanya tidak mampir ke tempat yang penuh kenangan ini. Hehe *curhat. Dulu saat masih masa-masa sekolah, ketika class meeting, suka main ke Girimanik walau lokasinya agak jauh. Nah, pada liburan Idul Fitri April 2023 kemarin, saya dan doi, serta teman saya dan doinya juga (wkwk) memutuskan untuk berkunjung ke Girimanik. Katanya, tempatnya jadi makin keren dan makin banyak spot fotonya. 
 
Jam 10 siang, kami otewe menuju Girimanik. Bagi yang belum tau lokasinya, Girimanik berada di Ngerapah, Desa Setren Kec. Slogohimo, Kab. Wonogiri, Jawa Tengah. Sekitar 30 km dari kota Wonogiri ke arah Ponorogo. Untuk menuju ke Setren, dari rumah sakit Amal Sehat Slogohimo, terus ke utara, kira-kira 10 km. 

Kurang lebih sekitar 45 menit berkendara, sampailah kami di Desa Setren. Di pintu masuk sudah ada ramai-ramai, untuk Mountain Camp letaknya di dekat pintu masuk. Namun, karena pengen ke air terjun, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju area air terjun yang memakan waktu kira-kira 15 - 20 menit lagi. Hati-hati ya, karena jalannya cukup curam dengan salah satu sisinya adalah jurang. 
 
Setelah sampai, kami segera memarkirkan motor. Sebelum melakukan trekking ke air terjun, kalian bisa beristirahat sebentar menikmati udara pegunungan di area pinus. Girimanik memiliki 3 air terjun. Air Terjun Ismoyo, Manikmoyo dan Tejomoyo. Area pinusnya sangat nyaman dengan pondok-pondok penjual makanan. Kalian bisa bersantai sambil memakan cemilan atau berswafoto dengan latar belakang hutan pinus yang asri. 
 
[ Menikmati Suasana Girimanik ]
Sangat disarankan untuk mengisi perut terlebih dahulu sebelum memulai perjalanan menuju air terjun. Karena lokasinya lumayan jauh dari area pinus dengan medan yang cukup menguras tenaga. Kami pun makan di salah satu pondok penjual pecel dan makan pop mie. 
 
Perut sudah terisi, hari mulai siang, kami pun memulai trekking menuju air terjun Manikmoyo. Di awal perjalanan, medan masih belum begitu sulit. Ada bagian jalan yang dicor menggunakan semen, untuk memudahkan kendaraan warga yang melintas. Udara di sekitar masih begitu sejuk dengan pepohonan yang cukup rindang. Kami berjalan santai sambil berfoto dan menikmati pemandangan. Kami juga melewati kebun kopi dan pondok kecil yang bisa dipakai berteduh kalau hujan turun. 
 
[ Trekking Menuju Air Terjun ]
[ Kebun Kopi ]
 Akhirnya, setelah kurang lebih satu setengah jam trekking, kami sampai juga di area air terjun. Kami tidak begitu banyak menemukan pengunjung lain, karena memang lokasinya cukup jauh. Kami hanya bertemu beberapa segerombolan anak kecil, mungkin seusia SMP dan beberapa pengunjung wanita yang sepertinya anak kuliahan. 
 
Untuk menuju ke air terjun Manikmoyo, pengunjung harus melakukan trekking sejauh kurang lebih 2 km. Waktu tempuh apabila berjalan santai adalah sekitar satu setengah jam. Cukup melelahkan, ya. Namun, kelelahan itu akan terbayar ketika sampai di area air terjun. Air terjun yang memiliki tinggi hampir 70 meter ini sangat indah. Sejuknya udara pegunungan akan membuat kamu betah berlama-lama di sini, apalagi sambil makan jajanan, wkwk. 
 
[ Air Terjun Manikmoyo ]
Setelah puas bermain-main di air terjun, kami memutuskan untuk kembali. Ketika kembali, gerimis sempat turun. Namun, karena kondisi pepohonan yang rindang, kami masih bisa berjalan pelan-pelan. Sesampainya di area pinus, masih ada beberapa pengunjung yang menikmati keasrian Girimanik. Namun, karena hari mulai sore dan kondisi langit agak mendung, kabut pun muncul. Karena hari sudah mulai sore, sekitar jam 3, kami pun meninggalkan area pinus. Kami berniat untuk mampir sebentar di Girimanik Mountain Camp. 

Girimanik Mountain Camp memiliki konsep resto dan penginapan. Untuk masuk ke area ini, kalian hanya perlu membayar tiket masuk sebesar 5000 rupiah per orang. Cabin yang tersedia tidak begitu besar, hanya berkapasitas 2 orang dewasa. Apabila ingin menginap, sebaiknya booking terlebih dahulu.

Bagi pengunjung yang tidak ingin menginap, di sini banyak spot foto yang menarik dengan background pegunungan. Selain kabin-kabin yang berjajar (di sebelah kanan), bagi yang tidak ingin menginap, kalian juga bisa menikmati suasana di Girimanik sambil nongkrong dan makan. Di sini ada restoran yang menyediakan makanan-makanan khas Jawa dan camilan bagi pengunjung yang hanya ingin singgah. Di sekitar lokasi sudah disediakan tempat duduk dengan view pegunungan yang asri serta ada beberapa gazebo di bagian bawah.
 
[ Suasana di Girimanik Mountain Camp ]
[ Kabin Girimanik Mountain Camp ]
Berikut adalah foto salah satu kabin yang berada di Girimanik Mountain Camp. Bentuk kabinnya sendiri sangat mungil seperti tenda dan kapasitasnya hanya bisa muat sekitar 2 orang dewasa. Tinggal di dalam kabin dengan suasana pegunungan yang asri, bisa jadi pilihan yang cocok untuk melepas penat. 
 
Sebelum pulang, kami menyempatkan diri untuk makan sore di Girimanik Resto. Salah satu menu yang kami pesan adalah tahu gejrot. Tahu gejrot merupakan makanan khas Cirebon yang terbuat dari tahu goreng yang dipotong kecil-kecil dan disiram dengan kuah yang telah diberi ulekan cabai, bawang putih, bawang merah, belimbing wuluh dan gula. Tahu gejrot biasa disajikan di layah kecil.

Berbeda dengan area air terjun yang hanya buka sampai jam 5 sore, untuk Girimanik Mountain Camp, buka sampai pukul 10 malam. Hmm, bisa jadi tempat yang bagus buat malam mingguan, ya? 

Girimanik Waterfall
Operational Hours : 08.00 AM – 05.00 PM
 
Girimanik Mountain Camp
Operational Hours : 08.00 AM – 22.00 PM
Location : Ngerapah, Setren Village, District. Slogohimo, Wonogiri, Central Java
 
Credit Photo
Personal Collection by Me (Nira Kunea)

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

ABOUT ME

About Me
Films maniac who loves smell of lemons and earth after the rain. Read horror stories and do lettering.

Popular Post

  • Resep-resep Unik in Game LifeAfter
    Udah pada tau game LifeAfter belom? Yup, di postingan sebelumnya, saya udah menceritakan tentang beberapa keunikan dan apa saja yang b...
  • Confessions, Kegilaan di Setiap Pengakuan
    Judul : Confessions Judul asli : Kokuhaku Penulis : Minato Kanae Penerjemah : Clara Canceriana, Andry Setiawan Cetakan Pertama : ...
  • 10 Lagu Lawas Ini Dijamin Bikin Kamu Merasa Balik ke Masa Lalu!
    Yuhuuu, karena bosan sama playlist yang itu-itu mulu, saya akhirnya mencoba untuk mencari-cari lagu-lagu lama. Lagu saat SD, SMP, poko...
  • Catatan Liburan di Taman Safari, Bogor
    Pokoknya, jalan-jalan emang nggak ada matinya. Seperti yang saya alami bersama dengan rekan-rekan kerja satu tim, akhir April lalu. Kam...
  • It's Not Just A Hobby, It's Life!
    Sampai sekarang, bahkan ketika saya merasa ada hobi-hobi lain yang lebih nge-hits dan kekinian, seperti traveling, kuliner, d...

Categories

Books Budaya Festival Film Foods Game Giveaway Hobby Indonesian Book Indonesian Film Jakarta Jejepangan K-Drama Kuliner Music Notes Novel One Ok Rock Place To Eat Review Romance Teenlit Tips & Tricks Travel True Story Visual Kei What to Eat Wisata Wonogiri Writing

Recent Post

    Blog Archive

    • ▼  2025 (4)
      • June 2025 (1)
      • May 2025 (1)
      • April 2025 (1)
      • March 2025 (1)
    • ►  2024 (5)
      • November 2024 (1)
      • September 2024 (2)
      • March 2024 (1)
      • January 2024 (1)
    • ►  2023 (9)
      • October 2023 (1)
      • September 2023 (2)
      • August 2023 (1)
      • June 2023 (1)
      • May 2023 (1)
      • March 2023 (1)
      • February 2023 (1)
      • January 2023 (1)
    • ►  2022 (9)
      • November 2022 (1)
      • October 2022 (1)
      • September 2022 (1)
      • August 2022 (1)
      • July 2022 (1)
      • June 2022 (1)
      • May 2022 (1)
      • March 2022 (1)
      • January 2022 (1)
    • ►  2021 (6)
      • November 2021 (1)
      • October 2021 (1)
      • September 2021 (1)
      • July 2021 (1)
      • April 2021 (1)
      • February 2021 (1)
    • ►  2020 (5)
      • December 2020 (1)
      • October 2020 (1)
      • June 2020 (1)
      • April 2020 (1)
      • February 2020 (1)
    • ►  2019 (7)
      • December 2019 (1)
      • October 2019 (1)
      • September 2019 (1)
      • August 2019 (1)
      • June 2019 (1)
      • March 2019 (1)
      • January 2019 (1)
    • ►  2018 (4)
      • September 2018 (1)
      • April 2018 (1)
      • February 2018 (1)
      • January 2018 (1)
    • ►  2017 (10)
      • December 2017 (1)
      • November 2017 (1)
      • October 2017 (1)
      • September 2017 (1)
      • August 2017 (2)
      • July 2017 (1)
      • May 2017 (1)
      • March 2017 (1)
      • February 2017 (1)
    • ►  2016 (14)
      • December 2016 (1)
      • November 2016 (2)
      • October 2016 (2)
      • August 2016 (2)
      • July 2016 (1)
      • June 2016 (1)
      • May 2016 (1)
      • April 2016 (2)
      • March 2016 (2)

    Follow My Blog

    Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates