Pages

  • Home
  • BOOK REVIEW
  • FILM
  • MUSIC
  • TRAVEL
  • GAME
  • KULINER
Facebook Instagram Google + E-mail

Dream Liner



Pada suatu malam bersalju tahun 1936, seorang seniman dipukuli hingga tewas di balik pintu studionya yang terkunci di Tokyo. Polisi menemukan surat wasiat aneh yang memaparkan rencananya untuk menciptakan Azoth –sang wanita sempurna– dari potongan-potongan tubuh para wanita muda kerabatnya. Tak lama sesudah itu, putri tertuanya dibunuh. Lalu, putri-putrinya yang lain serta keponakan-keponakan perempuannya tiba-tiba menghilang. Satu per satu mayat mereka yang termutilasi ditemukan, semua dikubur sesuai dengan prinsip astrologis yang diuraikan sang seniman. 

Pembantaian misterius itu mengguncang Jepang, menyibukkan pihak berwenang dan para detektif amatir, namun tirai misteri tetap tak terpecahkan selama lebih dari 40 tahun. Lalu, pada suatu hari di tahun 1979, sebuah dokumen diserahkan kepada Kiyoshi Mitarai, seorang astrolog, peramal nasib, dan detektif eksentrik. Dengan didampingi Dr. Watson versinya sendiri –seorang ilustrator dan penggemar kisah detektif, Kazumi Ishioka– dia mulai melacak jejak pelaku Pembunuhan Zodiak Tokyo serta pencipta Azoth yang bagaikan lenyap ditelan bumi. 


 Judul: The Tokyo Zodiac Murders
Penulis: Soji Shimada
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I : Juli 2012
Tebal: 360 hlm. 

Wah, kegemaran membeli buku-buku bekas dan random kadang bisa begitu mengejutkan. Setelah Voodoo, kisah detektif yang berlatar di Haiti, kini ada Tokyo Zodiac Murders, misteri pembunuhan zodiak yang menggemparkan Jepang pada tahun 1936. 

Awalnya, baca buku ini magernya minta ampun. Baca prolog doang bisa berhari-hari wkwk. Nah, karena di bagian prolog ini adalah surat wasiat Heikichi mengenai keinginannya untuk menciptakan Azoth sekaligus berisi beberapa clue. Jadi, rasanya kayak langsung dihantam di jidat disuruh mikir keras. 

Kisah ini diceritakan 40 tahun kemudian, pada tahun 1979, menggunakan sudut pandang Kazumi Ishioka –seorang ilustrator yang kecanduan dengan kisah misteri. Dia memiliki rekan bernama Kiyoshi Mitarai, seorang astrolog, peramal nasib sekaligus detektif partikelir. Suatu hari, ada salah satu pelanggan Kiyoshi yang datang, namun bukan untuk diramal. Pelanggan wanita itu memberikan sebuah dokumen yang berkaitan dengan misteri pembunuhan zodiak Tokyo, 40 tahun yang lalu.  

Pelanggan tersebut adalah Misako Iida, yang merupakan anak dari seorang polisi yang dulunya terlibat dalam kasus pembunuhan zodiak Tokyo. Ketika sedang membereskan rak buku ayahnya yang sudah meninggal, Mrs. Iida menemukan catatan yang isinya membuatnya sangat terkejut. Mrs. Iida kemudian menemui Kiyoshi dan meminta detektif tersebut untuk memecahkan misteri kasus pembunuhan itu. 

Keduanya –Kazumi dan Kiyoshi– dengan serius segera membahas kasus tersebut. Kazumi yang memang pencinta kisah misteri, mengetahui sebagian besar cerita-cerita yang beredar di masyarakat dan ini cukup membantu. Nah, masalahnya, Kazumi dan Kiyoshi ini merupakan dua entitas yang berbeda wkwk. Kazumi lebih banyak menggunakan perasaan dan Kiyoshi cenderung menggunakan logika. Ditambah dengan kelakuan Kiyoshi yang aneh, kadang membuat mereka saling bertabrakan. By the way, kedua manusia ini cowok yah.

Setelah melewati prolog yang rasa membacanya hampir seabad, akhirnya saya mulai semangat membaca cerita ini karena adanya Mr. Mitarai. Walaupun dia aneh tapi saya cukup tersanjung dengan pemikiran-pemikiran dan perilakunya yang eksentrik. 

Buku ini dikemas seperti pertunjukan panggung yang megah yang daftar isinya disusun setiap babak dan adegan. Oh ya, dalam novel ini banyak banget nama yang muncul, tapi di bagian awal cerita sudah ada daftar pemain. Jadi, kalo lupa bisa buka lagi halaman awal untuk mengingat-ingat. Namun selama membaca, memang ada beberapa tokoh yang tiba-tiba muncul tapi tidak dicantumkan di awal. Yah, gapapa dong malah jadi tantangan tersendiri, wkwk.

Seru. Setiap adegan memiliki petunjuk yang sengaja disebar oleh penulis. Ada beberapa ilustrasi juga. Penulis berinteraksi dengan pembaca lewat catatan intermezzo dan mengajak pembaca untuk menemukan siapa dalang dari pembunuhan zodiak Tokyo. Namun, sayangnya, saya sudah terlalu pusing membaca petunjuk dan hanya melanjutkan baca tanpa berniat menebak siapa pelakunya. Emang nggak bakat jadi detektif (T_T). By the way, kalo baca buku ini jangan sekali-kali langsung nge-cheat ke halaman paling belakang ya karena akan mengurasi esensi penasarannya.

[ Kiyoshi to Kazuma, mengenai Holmes ]

Nah, ini adalah salah satu kutipan Mr. Mitarai yang cukup memukau saya. 

"Kau tahu, mengamati pergerakan planet setiap hari membuatmu sadar betapa kecil dan remehnya kehidupan kita sehari-hari. Kita berdebat. Kita bertarung. Kita berjuang. Kita bersaing untuk meningkatkan kekayaan kita. Coba lihat alam semesta. Pergerakannya begitu dinamis, bagaikan jam raksasa. Bumi hanyalah satu roda penggerak dalam perangkat roda gigi jam tersebut, dan manusia tidak jauh berbeda dibandingkan bakteri. Jutaan demi jutaan bakteri menjalani kehidupan singkat mereka dengan bertempur dalam peperangan yang remeh. Mereka tidak berhenti untuk berpikir bahwa tanpa mekanisme alam semesta, kita semua tidak akan ada. Coba lihat apa yang dilakukan manusia, mereka saling bunuh demi simpanan uang di bank, yang tidak akan mereka belanjakan sampai mereka mati. Tidak masuk akal."

Sebagai orang yang suka dengan kisah-kisah misteri, novel ini membuat saya terkesan. Walaupun motif pembunuhannya memang umum & biasa, namun caranya begitu tidak biasa. Babak demi babak, adegan demi adegan, dialog demi dialog, ditulis dengan apik dan runut (kecuali di bagian prolog yang untuk saya pribadi bacanya harus penuh effort). Pembaca akan dibuat tidak sabar untuk bertemu dengan si pelaku. 

Nah, buku yang saya baca adalah buku terbitan lawas, 2012 dengan cover warna putih dengan gambar-gambar wanita yang anggota tubuhnya terpotong. Novel ini mengandung kejahatan mutilasi tapi bukan yang seram banget atau yang terlalu detail, jadi menurut saya masih aman aja. Sepertinya di Gramedia masih ada bukunya dengan cover yang berbeda. Oh ya, di buku terbitan lawas ini saya baru sadar kalo daftar isinya agak ngaco wkwkw. 

Bagi teman-teman yang suka dengan kisah-kisah misteri detektif, buku ini oke banget buat dijadikan koleksi. Nih saya kasih link-nya kalau mau purchase langsung di Gramedia online atau bisa juga cari di e-commerce kesayangan kalian yaa~!

https://www.gramedia.com/products/pembunuhan-zodiak-tokyo-the-tokyo-zodiac-murders

Rate 10/ 10 (karena ada Pak Mitarai). 

Credit Photo: Personal Collection by Me (Nira Kunea)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Apa menurut kalian indigo itu hanya tentang kemampuan indera keenam dan hanya bisa melihat hantu awam saja? Kalian salah besar! Aku adalah seorang anak indigo. Aku istimewa sejak berusia lima tahun. Kemampuanku tidak hanya melihat mereka, melainkan berinteraksi hingga masuk ke dunia yang sering kalian sebut dengan dunia lain. 

Lalu, apa menurutmu dunia lain itu hanya hantu saja? Jelas itu salah. Aku menjelajahi lebih dari lima dunia, di mana makhluk aneh yang sering dikatakan mitos, percaya atau tidak dunia mitos itu sebenarnya ada. Aku akan menceritakan kisahku. Tapi, sebelumnya aku minta untuk tidak membicarakan ini di ruang terbuka. Aku takut, jika makhluk dari dimensi lain itu akan mengetahui bahwa kalian sedang membicarakanmu kemudian mengejarmu. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

"Terpujilah, Anjana! Terpujilah, Anjana! Terpujilah, Anjana!" Seru pria misterius itu. 

Rahasia bisa membunuhmu, tak peduli seberapa rapat kau menyimpannya. Terlebih jika rahasia yang kau simpan, adalah dosa pada masa lalu. 

Ini tentang sebuah kedai misterius, yang muncul di satu tempat, kemudian berpindah ke tempat lain dalam sekejap. Hanya tampak bagi mereka yang memiliki rahasia. Di Indonesia kita mengenalnya sebagai kedai nasi kucing. Di negeri jiran, Malaysia, ia disebut kedai nasi lemak.
 
Pemiliknya seorang pemuda tampan, ia gemar bercerita tentang berbagai cerita urban di mana pun ia muncul. Adapun, ceritanya selalu diawali dari sebuah kenyataan, dan kenyataan itu pasti akan selalu, berdarah.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Gimana kabar kalian, Guys? Hope you all doing well. Masih dalam musim pandemi Covid-19, buat yang tidak berkepentingan, jangan ngacir-ngacir dulu, ya demi memutus mata rantai penyebaran virus.

Bosen di rumah mulu? Pastilah. Ini saya juga memasuki minggu kelima WFH, dan rasanya boring banget. Kerja, rebahan, makan, main HP, kerja lagi, rebahan lagi, wkwk. Udah kayak apaan tau. Well, tapi untuk kebaikan bersama mari kita coba bertahan. Semoga segalanya lekas membaik seperti sedia kala. Aamiin. 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Judul : Confessions
Judul asli : Kokuhaku
Penulis : Minato Kanae
Penerjemah : Clara Canceriana, Andry Setiawan
Cetakan Pertama : Agustus 2019
Tebal : 304 halaman

Sudah lama banget rasanya nggak ketik-ketik di blog, wkwk. Rindu saya rindu. Nggak terasa juga perjalanan kita di 2019 hampir berakhir ya, guys. Semoga di tahun berikutnya, semakin bertambah yang baik-baik. Aamiin. 

Anyway, kemarin pas ke Gramedia, akhirnya kebeli juga buku yang satu ini. Setelah membaca buku-buku karya Akiyoshi Rikako-sensei, saya jadi ketagihan baca-baca buku J-Lit terbitan Penerbit Haru  bergenre misteri thriller. Entah, pokoknya, asyik, tegang, greget gimana gitu bacanya.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Judul : Scheduled Suicide Day
Penulis : Akiyoshi Rikako
Penerbit : Penerbit Haru
Penerjemah : Andry Setiawan
Cetakan Pertama : April 2017
Tebal : 277 halaman


*Sinopsis:

Ruri yakin ibu tirinya telah membunuh ayahnya.

Tak sanggup hidup bersama ibu tirinya, Ruri bertekad bunuh diri untuk menyusul ayahnya. 

Ruri akhirnya pergi ke desa yang terkenal sebagai tempat bunuh diri, tapi dia malah bertemu dengan hantu seorang pemuda yang menghentikan niatnya. Hantu itu berjanji akan membantu Ruri menemukan bukti yang disembunyikan oleh ibu tirinya, dengan janji dia akan membiarkan Ruri mencabut nyawanya seminggu kemudian jika bukti tersebut tidak ditemukan. 

Itulah jadwal bunuh diri Ruri: 
satu minggu, terhitung setelah hari itu.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Judul : Cintaku Bersemi di Kios Bensin
Penulis : shytUrtle
Penerbit : LovRinz Publishing
Terbit : November 2016
Tebal : 153 halaman


Well, it's been so long. Kangen banget udah lama nggak ngerusuh di blog. Padahal mah nggak ada yang peduli, wkwk #sedih. Oke, mungkin karena terlalu banyak project yang pengen dikerjain, tapi malah nggak ada satu pun yang kelar. Haha. Ya beginilah kalau jadi orang maruk #janganditiru.

Setelah gagal di sana sini, akhirnya memilih untuk off sementara waktu dari project-project entahlah. Mungkin menenangkan diri dengan membaca buku bakalan jadi sesuatu yang asyik. Ya, memang. Apalagi kalau bukunya teenlit-teenlit unyu imut-imut gitu. Hahaha. Seperti buku yang akan saya review ini. By the way, saya order langsung dari penulisnya, loh. 
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

Judul : First Love [Gagal]
Penulis : Mili Aresia & Lydia Putri
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : 2016
Tebal : 208 halaman

Fiuhh, finally. Setelah beberapa bulan ini dijejali dengan naskah nyastra, non-fiksi dan horor, akhirnya bisa juga baca teenlit lagi! Yay! I feel excited. Rasanya benar-benar kayak hidup kembali! #alaymodeon. Wkwk. Skip skip. Abaikan curhatan anak kecil yang satu ini. 

Sebenarnya, buku ini dibeli karena pengen banget ikut Gramedia Writing Project yang pendaftarannya harus menggunakan struk belanja buku yang ada logo teenlit-nya. Jadilah beli buku ini dan buku satu lagi yang belum sempat dibaca. Wkwk.  

Okay, karena sudah lama banget rasanya nganggurin blog, akhirnya saya memutuskan untuk membuat review buku ini. Penasaran apa isinya? Yuk, let's check it out!

Share
Tweet
Pin
Share
3 komentar


Judul : Janji Bunga Matahari (Himawari no Yokusoku)
Penulis : Koko Ferdie
Penerbit : Diandra Kreatif
Terbit : 2016
Tebal : 121 halaman


Finally, setelah genap satu bulan novel ini berada di tangan saya, akhirnya saya bisa juga merampungkan baca. Saya pikir karena kebanyakan beli kitab, saya jadi susah menyelesaikan baca buku sampai akhir. Haha #apaanbanget

Yep, Janji Bunga Matahari (Himawari no Yokusoku) memang ber-setting di Jepang. Makanya saya tertarik buat beli. Langsung dari penulisnya, lagi. Ceritanya sendiri, menurut saya sih, simpel. Daripada novel, mungkin lebih tepat disebut sebagai novelet kali, ya?

Share
Tweet
Pin
Share
6 komentar



Judul : Reruntuhan Musim Dingin
Penulis : Sungging Raga
Penerbit : Diva Press
Terbit : Januari, 2016
Tebal : 204 halaman
ISBN : 978-602-391-079-3

Pertama kali lihat buku ini di rak novel Gramedia Mal Metropolitan Bekasi, sama sekali nggak butuh waktu lama untuk langsung jatuh cinta sama cover-nya yang unyu-unyu. Dengan background yang dominan warna putih dan gambar keranjang permennya, membuat buku ini terlihat semakin manis dan "menggoda". Apalagi dengan spoiler-nya yang seperti ini :

"Kupikir, sebaiknya kamu jangan jatuh cinta kepada penulis. Ia lebih banyak memeras kenangan, sebanyak mungkin dari dirimu, untuk kemudian ditinggalkan."
Nalea tidak mendengarnya sebagai sebuah peringatan. Mereka tetap kian dekat. Nalea tidak paham apakah ia jatuh cinta atau tidak.


Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar



Well... Halo. Selamat malam. Konbanwa. Good evening. Guten abend. Goedenavon! 
Sugeng rawuh para tamu. Hehehe.

Sedikit mau cerita. Akhir-akhir ini, saya suka banget beli kitab [sebutan untuk buku yang tebalnya mencapai 400 halaman atau bahkan lebih] dan suka banget menelantarkannya. Nah, kitab yang lama belum dibaca, udah beli kitab yang baru lagi [maklum, suka kalap kalau main ke toko buku, wkwk]. Jadi, intinya, ada banyak buku yang belum sempat dibaca [dan sekarang udah pengen beli lagi, haha]. Oke, baik, itu bukan merupakan bagian yang penting.

Bagian yang pentingnya adalah, saya berniat untuk melepas satu novel saya yang berjudul ELANTRIS - THE CURSE OF THE HOLY CITY karya Brandon Sanderson. Karena saya belum sempat baca juga, here I give you some blurb :


Share
Tweet
Pin
Share
23 komentar

Sampai sekarang, bahkan ketika saya merasa ada hobi-hobi lain yang lebih nge-hits dan kekinian, seperti traveling, kuliner, dan kanca-kancanya, saya lebih memilih untuk menghabiskan waktu luang dengan membaca.

Kenapa membaca? Well, setiap orang pasti memiliki alasan berbeda mengapa mereka lebih suka berdiam di kamar dengan setumpuk buku daripada pergi ke tempat-tempat baru yang -tentu saja- pasti mengasyikkan.

Begitu pula saya.

Sewaktu kecil, saya senang sekali membeli komik saku berukuran 15 x 10 cm yang dijual oleh abang-abang pedagang keliling. Kebanyakan komiknya berisi cerita hantu yang jalan ceritanya simpel dan cukup mudah dimengerti oleh anak-anak. Mulai dari situlah, saya kemudian tertarik dengan segala hal yang berkaitan dengan cerita. Setiap kali saya menemukan buku, saya pasti membacanya. Tujuannya, ya hanya satu : menemukan cerita yang menarik.

Saat masuk ke kelas 2 SD, Ibu Guru yang sampai sekarang masih saya ingat nama dan [sedikit] ciri-cirinya, meminjamkan kami buku-buku cerita untuk dibaca di rumah. Kami boleh memilih sendiri dan boleh meminjam lebih dari satu. Oke, tak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang penikmat kata selain mendapatkan buku yang bagus untuk diajak menghabiskan waktu senggang bersama.

Bukankah begitu?

Sampai SMP, saya masih menekuni hobi tersebut. Apalagi saat SMP, disediakan perpustakaaan yang luas dan bukunya juga lumayan lengkap. Kebanyakan buku yang saya baca adalah novel. Novel teenlit especially dan beberapa novel fantasy. Sempat membaca beberapa novel sastra seperti Layar Terkembang, Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Merahnya Merah dan judul-judul lain yang sampai saat ini belum berhasil saya ingat [hehehe, xD].

Memasuki dunia kerja, well, cukup sulit untuk ‘menyempatkan diri’ untuk membaca. Atau minimal, sekedar membuka-buka buku. Yah, karena kesibukan baru dan masih perlu waktu untuk beradaptasi dengan keadaan. Ditambah dengan ketiadaan fasilitas ‘meminjam buku gratis’. Jadilah, untuk beberapa saat off menjadi pembaca. Paling hanya sekedar baca-baca notes di Facebook atau baca-baca thread di Kaskus.

Sekarang, ketika sudah berhasil menyesuaikan, saya ‘memulai lagi’ hobi membaca saya. Prinsip saya hanya satu : membaca adalah jendela dunia. Dengan membaca, kita bisa menyambangi Jepang, Jerman, negara-negara di Eropa, Bali, Lombok walaupun hanya lewat deskripsi dan gambar. Tapi, bukankah itu lebih baik daripada tidak sama sekali?

Orang yang suka membaca, wawasannya tentu bisa bertambah luas. Karena setiap penulis menginginkan buku yang ditulisnya bermanfaat bagi pembaca. Jadi, tidak mungkin bukunya ditulis dengan asal-asalan. Setidaknya, ada pelajaran yang bisa kita ambil dari sebuah buku, walaupun itu dari sebuah novel fiksi sekalipun.

Bagi seseorang yang gila buku [mungkin saya juga termasuk], ia tidak akan segan mengeluarkan dana banyak untuk membeli buku yang diinginkannya. Sama halnya seperti seseorang yang hobi traveling, ia juga akan rela merogoh kocek demi mendapatkan liburan yang menyenangkan.

Setidaknya, ada 3 judul buku baru setiap bulannya. Yaa, walaupun 3 judul kadang tidak habis dibaca dalam waktu satu bulan. Hahaha. Namun, prinsip saya, setidaknya harus ada satu buku yang selesai saya baca dalam kurun waktu satu bulan.


Sampai saat ini, saya masih suka membaca novel ber-genre teenlit. Namun, sekarang, saya sedang keranjingan dengan novel fantasy anak-anak seperti Spellbinder, The Hobbit, Peterpan, Midnight for Charlie Bones dan ketujuh seri The Chronicles of Narnia. Untuk ke depannya mungkin akan mencoba naskah yang agak berat seperti Babad Tanah Jawi, The Lost City of Z, Sybil dan Angela’s Ashes.



[ My Collection ]


Oke, sejujurnya, alasan saya suka membaca adalah karena dengan membaca, kita bisa berimajinasi dan pergi ke tempat-tempat baru tanpa harus keluar dari kamar yang nyaman [kebanyakan orang-orang yang gila baca, punya imajinasi yang tinggi]. Tak butuh sunset di atas gunung, atau pasir pantai putih yang berkilau, atau makanan-makanan mahal, cukup sebuah buku keren dan secangkir teh di sore hari yang senyap dan damai.

See? Bukankah bahagia itu sederhana?

Tapi, bukan hanya karena saya suka membaca, saya jadi tidak suka traveling. Ada kalanya, saya juga ingin pergi ke tempat-tempat yang sejuk, hijau dan indah untuk menghilangkankan stress yang kadang bisa menjalar sampai ke ubun-ubun. Lain kali, anak gunung, anak mall, anak pantai dan anak-anak yang lain, perlu juga membaca buku, agar isi otaknya tidak cetek. Hehehe.

Bagi saya, membaca kini bukan lagi menjadi sebuah hobi. Tapi, sudah merupakan bagian dari hidup. Apalagi, sekarang sudah banyak terbit e-book, berbagai macam thread yang ceritanya lumayan seru, jadi yang nggak suka nentengin buku, bisa baca lewat smartphone.

Tapi, sejujurnya, saya lebih suka membaca buku cetak. Karena kalau dilihat orang, jadi kelihatan pinter. Hahaha [bagian yang ini, abaikan saja].


NOTE :

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba menulis di blog mukhofasalfikri.com dengan tema Menulis Pengalaman Membaca


Sponsored by : 









Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

ABOUT ME

About Me
Films maniac who loves smell of lemons and earth after the rain. Read horror stories and do lettering.

Popular Post

  • Resep-resep Unik in Game LifeAfter
    Udah pada tau game LifeAfter belom? Yup, di postingan sebelumnya, saya udah menceritakan tentang beberapa keunikan dan apa saja yang b...
  • Confessions, Kegilaan di Setiap Pengakuan
    Judul : Confessions Judul asli : Kokuhaku Penulis : Minato Kanae Penerjemah : Clara Canceriana, Andry Setiawan Cetakan Pertama : ...
  • 10 Lagu Lawas Ini Dijamin Bikin Kamu Merasa Balik ke Masa Lalu!
    Yuhuuu, karena bosan sama playlist yang itu-itu mulu, saya akhirnya mencoba untuk mencari-cari lagu-lagu lama. Lagu saat SD, SMP, poko...
  • Catatan Liburan di Taman Safari, Bogor
    Pokoknya, jalan-jalan emang nggak ada matinya. Seperti yang saya alami bersama dengan rekan-rekan kerja satu tim, akhir April lalu. Kam...
  • It's Not Just A Hobby, It's Life!
    Sampai sekarang, bahkan ketika saya merasa ada hobi-hobi lain yang lebih nge-hits dan kekinian, seperti traveling, kuliner, d...

Categories

Books Budaya Festival Film Foods Game Giveaway Hobby Indonesian Book Indonesian Film Jakarta Jejepangan K-Drama Kuliner Music Notes Novel One Ok Rock Place To Eat Review Romance Teenlit Tips & Tricks Travel True Story Visual Kei What to Eat Wisata Wonogiri Writing

Recent Post

    Blog Archive

    • ▼  2025 (4)
      • June 2025 (1)
      • May 2025 (1)
      • April 2025 (1)
      • March 2025 (1)
    • ►  2024 (5)
      • November 2024 (1)
      • September 2024 (2)
      • March 2024 (1)
      • January 2024 (1)
    • ►  2023 (9)
      • October 2023 (1)
      • September 2023 (2)
      • August 2023 (1)
      • June 2023 (1)
      • May 2023 (1)
      • March 2023 (1)
      • February 2023 (1)
      • January 2023 (1)
    • ►  2022 (9)
      • November 2022 (1)
      • October 2022 (1)
      • September 2022 (1)
      • August 2022 (1)
      • July 2022 (1)
      • June 2022 (1)
      • May 2022 (1)
      • March 2022 (1)
      • January 2022 (1)
    • ►  2021 (6)
      • November 2021 (1)
      • October 2021 (1)
      • September 2021 (1)
      • July 2021 (1)
      • April 2021 (1)
      • February 2021 (1)
    • ►  2020 (5)
      • December 2020 (1)
      • October 2020 (1)
      • June 2020 (1)
      • April 2020 (1)
      • February 2020 (1)
    • ►  2019 (7)
      • December 2019 (1)
      • October 2019 (1)
      • September 2019 (1)
      • August 2019 (1)
      • June 2019 (1)
      • March 2019 (1)
      • January 2019 (1)
    • ►  2018 (4)
      • September 2018 (1)
      • April 2018 (1)
      • February 2018 (1)
      • January 2018 (1)
    • ►  2017 (10)
      • December 2017 (1)
      • November 2017 (1)
      • October 2017 (1)
      • September 2017 (1)
      • August 2017 (2)
      • July 2017 (1)
      • May 2017 (1)
      • March 2017 (1)
      • February 2017 (1)
    • ►  2016 (14)
      • December 2016 (1)
      • November 2016 (2)
      • October 2016 (2)
      • August 2016 (2)
      • July 2016 (1)
      • June 2016 (1)
      • May 2016 (1)
      • April 2016 (2)
      • March 2016 (2)

    Follow My Blog

    Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates