Pages

  • Home
  • BOOK REVIEW
  • FILM
  • MUSIC
  • TRAVEL
  • GAME
  • KULINER
Facebook Instagram Google + E-mail

Dream Liner


Hai, guys! Kira-kira bosen nggak sih tiap liburan pasti ke tempat itu-itu aja? Pengen menginap di tempat yang tenang, damai dan privat tapi nggak tahu di mana? Tenang, ada Damar Langit Resort solusinya. Yup, kali ini saya akan membagikan pengalaman selama menginap di Damar Langit, sebuah resort di daerah Bogor dengan view yang luar biasa! 

Awalnya, kantor mau mengadakan acara liburan bersama. Beberapa kali mencari rekomendasi hotel di daerah Bogor yang bagus via Google. Dan ketemulah saya dengan web Damar Langit ini. Melihat dari laman web, resort ini benar-benar bagus. Lihat review di Google pun rata-rata ulasannya bagus, hanya beberapa saja yang memberikan rating buruk, dan mungkin itu sudah menjadi bahan improve bagi manajemen resort. 

Setelah melihat foto-foto dan rate kamar yang diberikan, akhirnya kami booking satu villa dengan beberapa extra bed dan satu kamar superior. Harganya memang cukup mahal, apalagi kala itu sedang tidak ada diskon yang lumayan besar. Tapi, berhubung budget dari kantor masih cukup, akhirnya kami jadi booking di Damar Langit. 

Perjalanan menuju ke resort cukup berliku. Kami kemarin naik elf dan beruntungnya masih bisa masuk. Tapi, kalau bus sepertinya tidak muat karena memang jalan gang yang tidak terlalu lebar cenderung sempit. Jalannya menanjak, hampir mirip seperti jalanan di kampung. Bagi saya yang sudah familiar dengan jalanan yang naik turun, tidak begitu kaget dengan trek ini. Namun, bagi anak kota sepertinya lumayan buat deg-degan. 

Setelah perjalanan panjang, akhirnya kami sampai juga di area Damar Langit. Setelah melalui proses check in, kami diantar menggunakan shuttle menuju ke kamar kami yang terletak di bagian atas. Naik shuttle ini nggak begitu lama kok, hanya sekitar 5-10 menit saja. Dan tentu saja, acara naik shuttle ini seru sekali, guys! 

Sesampainya di villa, kami segera membereskan barang bawaan. Satu villa khusus untuk anak laki-laki, dan kami perempuan bertiga tinggal di kamar superior. By the way, jarak antara villa dan kamar superior ini lumayan jauh karena lokasinya yang berbeda. Untuk menuju ke kamar superior, kami harus turun melewati beberapa area undakan, untuk lebih jelasnya bisa dilihat di gambar di bawah ini. Area kamar superior ini juga satu arah dengan area Glamping. 


Dan, akhirnya kami sampai juga di kamar superior ini welll (pake nada Mursid, wkwkw). Pemandangan dari kamar ini bener-bener bagus! Kota Bogor di bawah keliatan jelas banget dengan banyak  pepohonan yang mempercantik pemandangan. Oh iya, di sini itu dingin banget ya, bahkan kabut juga sering turun. Tapi nggak apa-apa karena itu malah bikin estetik. Sayangnya, waktu itu kami nggak sempat makan di resto mereka dan malah memilih memesan makanan dari luar. Soalnya setelah menginap, kami berencana untuk makan-makan juga di salah satu resto yang dekat dengan area Damar Langit. Khawatir budgetnya nggak cukup wkwk. 

Malamnya, gerimis turun. Udah suasana dingin ditambah hujan pula, akhirnya kami sepakat nonton film horor aja sambil rebahan. Dan ternyata, anak laki-laki juga pada nonton film horor di villa sambil ngabisin sisa makanan yang dipesan. Asli suasananya benar-benar bikin nyaman dan rasanya nggak ingin pulang!

Paginya, kami sarapan di resto dengan view yang nggak kalah menawan. Kalian bisa melihat gagahnya Gunung Salak sambil menikmati hidangan. Wow, such a wonderful place! Sayang sekali, menu sarapannya tidak begitu banyak pilihannya. Rasanya lumayan oke walau nggak yang enak banget. 



Selesai sarapan, kami melanjutkan trekking menuju air terjun Aozora. Air terjun ini ala-ala Jepang gitu, lokasinya bisa dijangkau menggunakan shuttle dan lanjut jalan kaki sebentar saja, nggak sampai 10 menit. Di sekitar air terjun ada kedai ala-ala Jepang juga tapi sayang sepertinya tidak beroperasi, ada juga tempat penyewaan kimono. Air terjunnya sendiri nggak begitu tinggi, tapi cukup bagus untuk melepas penat. Karena nggak begitu ramai, jadi bisa puas berfoto dan bermain-main air di sini. 

Kembali dari air terjun, kami bermain sebentar di kolam renang sambil menunggu waktu check out. Airnya sangat dingin! Area-nya juga terbuka dan pas banget view-nya kota Bogor. Jadi acara berenangnya tentu saja makin seru! 

Akhirnya, setelah puas bermain, kami bersiap-siap untuk check-out. Rasanya menginap semalam masih kurang puas karena masih ada beberapa tempat yang belum sempat di-explore. Semoga di lain waktu bisa mampir ke sini lagi, hehehe. 

Kamar: 4/5 (sepertinya penataan tempat kamar mandinya kurang bagus, jadi air bekas mandi tidak bisa langsung masuk ke saluran air dan bikin mengendap).
Pelayanan: 5/5 (semua karyawan yang saya temui ramah pol, cuma ada satu mbak-mbak di resto yang agak judes, tapi itu gapapa welll, temennya baik semua wkwk). 

Damar Langit Resort
Jl. Batu Sapi No.RT.6, RW4, Batu Layang, Kec. Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16750

Credit Photo:
Personal Collection by Me (Nira Kunea)

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Terakhir kali ke Girimanik, kalo nggak salah di tahun 2016. Sudah 7 tahun rupanya tidak mampir ke tempat yang penuh kenangan ini. Hehe *curhat. Dulu saat masih masa-masa sekolah, ketika class meeting, suka main ke Girimanik walau lokasinya agak jauh. Nah, pada liburan Idul Fitri April 2023 kemarin, saya dan doi, serta teman saya dan doinya juga (wkwk) memutuskan untuk berkunjung ke Girimanik. Katanya, tempatnya jadi makin keren dan makin banyak spot fotonya. 
 
Jam 10 siang, kami otewe menuju Girimanik. Bagi yang belum tau lokasinya, Girimanik berada di Ngerapah, Desa Setren Kec. Slogohimo, Kab. Wonogiri, Jawa Tengah. Sekitar 30 km dari kota Wonogiri ke arah Ponorogo. Untuk menuju ke Setren, dari rumah sakit Amal Sehat Slogohimo, terus ke utara, kira-kira 10 km. 

Kurang lebih sekitar 45 menit berkendara, sampailah kami di Desa Setren. Di pintu masuk sudah ada ramai-ramai, untuk Mountain Camp letaknya di dekat pintu masuk. Namun, karena pengen ke air terjun, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju area air terjun yang memakan waktu kira-kira 15 - 20 menit lagi. Hati-hati ya, karena jalannya cukup curam dengan salah satu sisinya adalah jurang. 
 
Setelah sampai, kami segera memarkirkan motor. Sebelum melakukan trekking ke air terjun, kalian bisa beristirahat sebentar menikmati udara pegunungan di area pinus. Girimanik memiliki 3 air terjun. Air Terjun Ismoyo, Manikmoyo dan Tejomoyo. Area pinusnya sangat nyaman dengan pondok-pondok penjual makanan. Kalian bisa bersantai sambil memakan cemilan atau berswafoto dengan latar belakang hutan pinus yang asri. 
 
[ Menikmati Suasana Girimanik ]
Sangat disarankan untuk mengisi perut terlebih dahulu sebelum memulai perjalanan menuju air terjun. Karena lokasinya lumayan jauh dari area pinus dengan medan yang cukup menguras tenaga. Kami pun makan di salah satu pondok penjual pecel dan makan pop mie. 
 
Perut sudah terisi, hari mulai siang, kami pun memulai trekking menuju air terjun Manikmoyo. Di awal perjalanan, medan masih belum begitu sulit. Ada bagian jalan yang dicor menggunakan semen, untuk memudahkan kendaraan warga yang melintas. Udara di sekitar masih begitu sejuk dengan pepohonan yang cukup rindang. Kami berjalan santai sambil berfoto dan menikmati pemandangan. Kami juga melewati kebun kopi dan pondok kecil yang bisa dipakai berteduh kalau hujan turun. 
 
[ Trekking Menuju Air Terjun ]
[ Kebun Kopi ]
 Akhirnya, setelah kurang lebih satu setengah jam trekking, kami sampai juga di area air terjun. Kami tidak begitu banyak menemukan pengunjung lain, karena memang lokasinya cukup jauh. Kami hanya bertemu beberapa segerombolan anak kecil, mungkin seusia SMP dan beberapa pengunjung wanita yang sepertinya anak kuliahan. 
 
Untuk menuju ke air terjun Manikmoyo, pengunjung harus melakukan trekking sejauh kurang lebih 2 km. Waktu tempuh apabila berjalan santai adalah sekitar satu setengah jam. Cukup melelahkan, ya. Namun, kelelahan itu akan terbayar ketika sampai di area air terjun. Air terjun yang memiliki tinggi hampir 70 meter ini sangat indah. Sejuknya udara pegunungan akan membuat kamu betah berlama-lama di sini, apalagi sambil makan jajanan, wkwk. 
 
[ Air Terjun Manikmoyo ]
Setelah puas bermain-main di air terjun, kami memutuskan untuk kembali. Ketika kembali, gerimis sempat turun. Namun, karena kondisi pepohonan yang rindang, kami masih bisa berjalan pelan-pelan. Sesampainya di area pinus, masih ada beberapa pengunjung yang menikmati keasrian Girimanik. Namun, karena hari mulai sore dan kondisi langit agak mendung, kabut pun muncul. Karena hari sudah mulai sore, sekitar jam 3, kami pun meninggalkan area pinus. Kami berniat untuk mampir sebentar di Girimanik Mountain Camp. 

Girimanik Mountain Camp memiliki konsep resto dan penginapan. Untuk masuk ke area ini, kalian hanya perlu membayar tiket masuk sebesar 5000 rupiah per orang. Cabin yang tersedia tidak begitu besar, hanya berkapasitas 2 orang dewasa. Apabila ingin menginap, sebaiknya booking terlebih dahulu.

Bagi pengunjung yang tidak ingin menginap, di sini banyak spot foto yang menarik dengan background pegunungan. Selain kabin-kabin yang berjajar (di sebelah kanan), bagi yang tidak ingin menginap, kalian juga bisa menikmati suasana di Girimanik sambil nongkrong dan makan. Di sini ada restoran yang menyediakan makanan-makanan khas Jawa dan camilan bagi pengunjung yang hanya ingin singgah. Di sekitar lokasi sudah disediakan tempat duduk dengan view pegunungan yang asri serta ada beberapa gazebo di bagian bawah.
 
[ Suasana di Girimanik Mountain Camp ]
[ Kabin Girimanik Mountain Camp ]
Berikut adalah foto salah satu kabin yang berada di Girimanik Mountain Camp. Bentuk kabinnya sendiri sangat mungil seperti tenda dan kapasitasnya hanya bisa muat sekitar 2 orang dewasa. Tinggal di dalam kabin dengan suasana pegunungan yang asri, bisa jadi pilihan yang cocok untuk melepas penat. 
 
Sebelum pulang, kami menyempatkan diri untuk makan sore di Girimanik Resto. Salah satu menu yang kami pesan adalah tahu gejrot. Tahu gejrot merupakan makanan khas Cirebon yang terbuat dari tahu goreng yang dipotong kecil-kecil dan disiram dengan kuah yang telah diberi ulekan cabai, bawang putih, bawang merah, belimbing wuluh dan gula. Tahu gejrot biasa disajikan di layah kecil.

Berbeda dengan area air terjun yang hanya buka sampai jam 5 sore, untuk Girimanik Mountain Camp, buka sampai pukul 10 malam. Hmm, bisa jadi tempat yang bagus buat malam mingguan, ya? 

Girimanik Waterfall
Operational Hours : 08.00 AM – 05.00 PM
 
Girimanik Mountain Camp
Operational Hours : 08.00 AM – 22.00 PM
Location : Ngerapah, Setren Village, District. Slogohimo, Wonogiri, Central Java
 
Credit Photo
Personal Collection by Me (Nira Kunea)

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Liburan Imlek tahun ini bertepatan banget dengan weekend. Yup, bagi beberapa pegawai swasta jarang-jarang kan, dapet liburan Sabtu-Minggu begini, hehehe. Oke, karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan libur dua hari berturut-turut, yah, akhirnya... kita liburan.

Awalnya saya dan rekan-rekan satu tim berencana ke Bandung. Namun, karena nggak di approve sama Big Boss, ya sudah jadinya kita ke Bogor aja. PS : kita liburan dibayarin kantor, dengan kedok sebagai acara family gathering atau apalah namanya, wkwk. 

Tempat pertama yang saya cari waktu itu adalah tempat menginap. Sempat berpikiran mau sewa villa yang bisa sekalian dapat view yang lumayan karena yang ikut cukup banyak, ada sekitar 10 orang (4 perempuan, 6 lelaki). Namun, karena budget-nya terbatas, akhirnya kami memilih untuk stay di hotel.

Tentu ada banyak hotel-hotel di Bogor yang menawarkan view yang menakjubkan. Selain view, lokasi dan harga juga jadi bahan pertimbangan. Dan, setelah sekian lama browsing dan bingung-bingung mau memilih tempat menginap di mana, akhirnya pilihan jatuh kepada The Grand Hill Hotel. Melihat review-nya yang cukup bagus serta foto-foto yang tersebar di internet, sepertinya tempat ini oke.

Waktu itu, saya booking langsung ke pihak hotelnya via Whatsapp. Responnya cukup cepat dan ramah. Syukurnya masih ada kamar tersisa untuk tanggal 25-26 Jan. Sempat deg-degan juga karena pasti banyak juga yang berlibur. Setelahnya, mereka memberikan price list dan saya booking 3 unit Deluxe Twin Bed Room dengan harga 900 ribuan each (menyesuaikan budget, wkwk). Oh ya, Deluxe Twin Bed Room ini bisa memilih antara city view dan mountain view. Tapi, kemarin hanya tersisa yang city view, yowislah nggak apa-apa. Anyway setelah melihat price list-nya, yang paling murah adalah Premiere Room, namun kamar ini tidak dapat view (terhalang pepohonan) dan letaknya di bagian belakang hotel.

Di sini kita bisa tambah extra bed loh, guys. Saya juga tambahin extra bed untuk ketiga kamar. Harganya 350.000 sudah include breakfast untuk 1 orang dewasa. Dan untuk pelunasannya maksimal H+1 setelah reservasi. 

Okee, akhirnya libur tlah tibaaaa. Kami otw via dua mobil dari tempat berkumpul sekitar pukul 10 pagi. Karena check in hotel masih jam 2 siang, kami berencana untuk naik ke Puncak dulu. Namun, sampai Bogor ternyata hujan gaes dan jam baru menunjukkan pukul setengah 1 siang, wkwk. 

Setelah gabut cukup lama, baru ingat kalau di hotelnya ada juga Bistro & Cafe. Okelah, karena belum makan siang, akhirnya kami mampirlah ke sana. Suasananya Balinese, sih. Ada beberapa patung yang menyambut ketika kami masuk. Menu yang ditawarkan pun cukup beragam. Mulai dari Italian, American, French dan tak lupa Asian cuisine. Harganya juga lumayan di kantong, yah namanya juga cafe dan di tengah-tengah suasana asri. 

Well, di sini yang dateng minumnya dulu, seperti resto kebanyakan awkawkawk. Namun, penyajian makannya, sekaligus gaes. Jadi, nggak ada tuh istilah nunggu-nunggu pesenan yang lain datang buat makan, hehe. Nah, setelah melihat porsi dan mencicipi rasanya, saya pikir cukup worth it dengan harga sekian. 

Saya waktu itu pesan The Grand Hill Sundanese Set. Porsinya besar, nasinya walaupun hanya nasi putih biasa rasanya enak, sambelnya pedes sih cuma kurang sreg di lidah saya yang lebih suka sambel bawang awkawkawk, bumbu sate tahu dan tempe gorengnya juga berasa, lalapannya komplit, ayamnya empuk dan sayur asemnya tuh sedep banget. Pokoknya gud lah :v. Sempet nyicipin Chicken Katsu pesenan temen. Dan saya langsung suka kuah karinya yang kental. Ayamnya juga crispy dan empuk. Saya juga nyicip sedikit pesenan Nasi Hainan. Baru sekali nyobain Nasi Hainan dan saya pikir itu adalah nasi uduk karena rasanya gurih, wkwk. Nasi Hainan-nya lembut, gurih dan rasa rempahnya kuat. 

[ The GrandHill Sundanese Set ]
[ Suasana di Resto ]
Setelah puas makan, kami segera turun untuk check in hotel. Seperti kebiasaan cewe-cewe kebanyakan, kami survey dulu ke ketiga kamar untuk menentukan kamar mana yang paling oke. Hehe, curang banget yah :v Dan akhirnya kami pilih kamar tengah, dengan view dan tata letak ruangan yang menurut kami sesuai dengan selera. Sayangnya, nggak sempet foto kamarnya saat masih rapi karena kami langsung meletakkan bawaan sembarangan dan melemparkan diri ke kasur. 

Kamarnya didominasi dengan aksen kayu, cokelat-cokelat gitu. Kesan natural-nya terasa. Sebenarnya mau modern room atau traditional room nggak masalah, sih buat saya, yang penting nyaman. Ada balkon juga yang menghadap ke jalan, cocok banget untuk duduk-duduk santai sambil ngopi, ngeteh melepas penat sambil melihat-lihat suasana kota Bogor yang adem. Untuk kamar mandinya agak sempit memang, tapi it's okelah. 


Malamnya, kami jalan-jalan ke Puncak Pass dan nyicipin Sate Maranggi Sari Asih. Warung sate di sini rame banget, guys. Tempatnya selalu penuh dan asap sate membumbung tiada henti, wkwk. Kesian abang penjualnya, pasti capek ngipasin. Well, sebenarnya lidah saya kurang cocok dengan sate daging sapi (pencinta ayam forever :v). Ketika nyobain sedikit + nasi + oncomnya yang melegenda, yah lumayanlah daripada nggak makan, hehe. Namun, lihat teman-teman yang lahap makannya, saya be like: apa yang salah sama lidah gue? Wkwk, tapi nggak pa-pa. Itukan selera. 

Selesai makan, kami langsung kembali ke hotel karena waktu sudah malam. Sesampainya di hotel, girls squad juga nggak langsung tidur. Masih buka pintu balkon dan dengerin suara kendaraan dari kejauhan sambil ngobrol-ngobrol ringan, bercanda + nonton TV. Saya sempat menyeduh teh dan menikmatinya sembari memandang city lights + sarungan selimut (?) wkwk. Cukup menyenangkan sebelum akhirnya tidur pada pukul dua pagi.

Paginya, selepas Subuh, saya membuka gorden jendela dan kembali selimutan. Lantai tempat berpijak rasanya udah kayak es. Padahal penghangat ruangannya dinyalakan. Saya masih tidur-tidur ayam di kasur sampai akhirnya sekitar pukul enam pagi, pintu kamar diketuk berulangkali. Ternyata anak cowok pada ngajak makan -_- Yaudah saya bilang aja sarapannya ready mulai jam tujuh sampai jam sepuluh.

Karena udah terlanjur bangun, akhirnya saya kembali mencuci muka dan mengajak teman untuk keliling-keliling sekitar hotel. Kami turun ke lantai dasar dan berjalan-jalan sambil mengambil foto di sekitar sana. Udara pagi masih segar banget, adem dan bikin betah. Oh ya, The Grand Hill punya kolam renang yang epic banget loh. Jadi, kolamnya ini menghadap langsung ke mountain view. Asli keren memang. No doubt-lah, nggak salah milih ini tempat, wkwk.


[ Sky Bridge, kalo malem pasti lebih bagus :v ]
[ Kolam Renangnya, Gaes :v ]
Setelah puas keliling-keliling di sekitar hotel, kami memutuskan untuk segera sarapan. Belum mandi bodo amatlah, udah laper wkwk. Oh ya, karena harga sewa hotelnya sudah include breakfast, jadi kalau ada tambahan orang akan dikenakan additional charge breakfast sebesar 120.000.

Ketika kami masuk ke ruang makannya, sudah ramai orang. Ramai piring berdenting, ramai chef masak, dan ramai bau-bauan yang menggoda. Hmmm, ada banyak cuisine yang ditawarkan di sini. Mulai dari sarapan ala Indonesia banget, American, Italian dan French. Kloter pertama saya nyobain nasi gorengnya + tempe goreng, yang penting diisi dulu perutnya wkwk. Rasanya ya, not bad lah wkwk. Pilihan menu sarapan disini bener-bener beragam dan kalian bisa pilih-pilih sesukanya. Waktu itu sempat nyobain baked potato, salad, waffle, prata, curry dan beberapa menu lainnya. Enak. Walaupun pengen nyobain dengan porsi dikit-dikit kayaknya nggak bakal kuat dah perutnya karena emang menunya itu banyak banget, wkwk.

[ Sarapan weh :v ]
Selepas sarapan sambil haha hihi, kami segera kembali ke kamar dan bersantai sejenak menunggu waktu check out. Syukurnya cuaca cukup bersahabat, nggak ada mendung-mendungnya gitu. Pokoknya puas deh nginep semalam di hotel ini. Dengan view yang bagus, fasilitas yang cukup oke, kamar yang nyaman dan sarapan yang beraneka ragam, saya rasa harganya cukup worth it. Pengen kembali ke tempat ini kalau ada waktu, kesempatan dan tentunya... rejeki. Hehe.

Salam piknik, Gaes!

* Credit Photo : Personal Collection by Me (Nira Kunea)
Share
Tweet
Pin
Share
3 komentar


Oke, awalnya saya nggak percaya kalo saya beneran sampe sini, wkwk. Dari mulai minta ijin ortu, pertama kali pesen tiket pesawat, pertama kali ke bandara, first plane sendirian... dan dari situ saya bener-bener nyadar kalo saya memang berjiwa bolang, teman-teman. 

MAKASSAR. Yaaa, Makassar. Why Makassar? Karena jauh *apasih, wkwk. Jadi gini, saya liburan ke Makassar (bodo amat :v) dan ini adalah pengalaman pertama pergi ke luar pulau sendirian (dengan pedenya). Selain karena penasaran sama rasanya naik pesawat (?), saya juga penasaran sama kota-kota di luar Jakarta. Ternyata eh, sama aja gaes, macet juga walau nggak separah di ibukota, sih.

Pesawat landing pukul satu malam. Oke, waktu itu saya dijemput sama teman yang memang tinggal di sana dan segera diantar ke penginapan. Sampai pagi, saya nggak bisa tidur. Entah karena excited atau karena mikir "serius gue beneran sampe sini?" wkwk. Dan walhasil, saya tidur sampai siang. Ini sebenernya mau tidur apa liburan, yah. Entah.

Ada beberapa alasan kenapa saya akhirnya jadi pergi ke Makassar. Selain untuk memastikan rasa, di Makassar ada beberapa teman game yang pengen saya temui. Jadilah akhirnya sore harinya, saya dan teman-teman game saya meet up. Di mana? Di Pantai Losari, guys.



[ Beberapa penampakan di Pantai Losari ] 

Pantai Losari ini terletak di sebelah barat kota Makassar. Lokasinya memang dekat banget sama jalan besar. Di sekitarnya banyak hotel-hotel dan gedung-gedung perkantoran. Di sini memang tempatnya luas dan cocok buat kumpul. Kalau pagi cocok buat yang suka jogging sama jalan-jalan ringan. Tapi kalo sore, di bawah jam 5, masih agak panas. Kalau udah dekat sunset, pas Maghrib gitu suasananya udah adem. Anginnya sepoi dan senjanya indah banget pemirsaaa.

Itu adalah pertama kalinya saya menyaksikan matahari perlahan-lahan tenggelam. Menyisakan semburat merah di langit dan memantulkan cahaya jingga di air laut. Masya Allah, amazing banget sumpah lah. Saya sampe diem, bengong agak lama saking takjubnya. Saya tuh merasa kecil banget di tengah hamparan dunia yang luas ini (sok puitis banget anjay, wkwk). Seenggaknya, itulah rasa yang masih ikut saya sampai sekarang.

[ Maka, nikmat manalagi yang kau dustakan, Dek? ]
Oh ya, di sekitar sini juga banyak patung dan letter besi. Waktu itu nggak sempat foto-foto di letter besinya, cuma fokus ke sunset wkwk. Padahal ada cukup banyak, Toraja, Makassar, Pantai Losari, dll. Ada juga masjid terapung, cari di google namanya masjid Amirul Mukminin. Waktu itu lokasi kumpulnya cukup jauh dari masjid, jadinya nggak jadi ke sana, deh. Padahal pengen.

Di sepanjang jalan ada banyak juga pedagang yang berjualan. Ada yang berjualan makanan, snack ringan dan souvenir. Saya dan teman-teman akhirnya mlipir ke salah satu warung kaki lima, nyobain pisang epe, wkwk.

Pantai Losari ini walau malam juga masih rame banget. Mungkin karena dekat sama pusat kota kali, ya. Dan di sekitarnya juga banyak pedagang jadi bisa sekalian kulineran. Serius, deh pokoknya. Bagi kalian yang dateng ke Makassar, Pantai Losari merupakan salah satu tempat wajib yang harus dikunjungi. Sensasi menyaksikan matahari terbenam di depan mata itu memang nggak ada duanya, gaes. Semoga di lain kesempatan bisa ke sini lagi dan menghasilkan lebih banyak foto sunset *apasih, wkwk. Aamiin. []

* Credit Photo : Personal Collection by Me (Nira Kunea)


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
[ View Dari Puncak Secokro ]
Seperti ritual di tahun-tahun sebelumnya, setiap akhir atau awal tahun, bagi anak rantauan seperti saya, pasti akan menyempatkan waktu untuk mengunjungi kampung halaman. I'm back home because I'm homesick, wkwk. Dan rasanya, liburan kali ini adalah liburan yang paling spektakuler. Kenapa spektakuler? Pasalnya, selama lima hari di rumah dan hujan turun terus setiap menjelang siang, wkwk.

Syukurnya, saya masih diberi kesempatan untuk main-main sebentar ke Purwantoro, daerah Wonogiri Timur bersama teman masa kecil saya. Awalnya kami bingung-bingung banget mau main ke mana. Kalau main jauh-jauh ngeri kejebak hujan di jalan (karena memang lagi musimnya). Kalau yang dekat, hampir sudah dikunjungi semua, wkwk. Jadi serba salah, deh. Namun, setelah Googling sejenak, akhirnya kami memutuskan untuk ke Puncak Secokro yang terletak di desa Sumberrejo, Bakalan, Kec. Purwantoro. 

Butuh perjuangan khusus untuk sampai ke tempat yang menyenangkan ini. Ceritanya, kami tuh nggak tau jalan dan hanya mengandalkan Google Maps yang (kadang) menyesatkan. Kalau di kota besar, pakai Google Maps kita bisa sampai. Tapi, kalau di daerah pedesaan seperti ini, kadang malah bisa disasarin sampai ke tempat antah berantah, wkwk. Setelah satu setengah jam perjalanan dan bertanya ke lebih dari lima orang (omegat haha), akhirnya kami sampai juga di tempat yang sebenarnya sudah hits dari tahun 2017 tersebut. 


[ Negeri di Atas Awan ]


Puncak Secokro ternyata lebih tinggi dari Bukit Cumbri loh. Namun, pendakiannya tidak terlalu jauh karena motor bisa dibawa sampai ke atas, dekat dengan puncaknya. Kami berkunjung bukan ketika hari libur, pas hari Senin siang. Dan kaget ketika suasana di gerbangnya sepi sekalih pemirsah, wkwk. Namun, hal itu tidak menyurutkan tekad kami. Masa sudah jauh-jauh otewe nggak menghasilkan apa-apa, kan nggak lucu, sumpah. Akhirnya, kami mendaki sendiri bermodal nekat dan mengikuti jalan setapak. Karena sempat ragu, kita jadinya bolak-balik dua kali. Hahaha. 

Sampai di atas, ternyata tempatnya asli keren. You can see everything green and relax your mind. Pemandangan hijau yang asri memang selamanya akan memanjakan mata dan membuat pikiran tenang. Ada untungnya juga kami berkunjung pas bukan hari libur. Pasalnya, ketika di atas, sama sekali nggak ada manusia lain selain kami berdua. Jadinya, kami bisa puas poto-poto tanpa merasa terganggu atau pun risih. Dan kocaknya lagi, kami merasa hanya kami yang memiliki tempat ini, hahaha. 



[ Ngeksis dulu, guys ✌ ]

Saat duduk di lincak (bangku yang terbuat dari bambu) dan memandang perbukitan serta deretan perumahan dan perkebunan warga, saya merasa nyaman dan hampir nggak ingin meninggalkan tempat ini. Apalagi saat itu sayup-sayup terdengar musik campursari yang membuat mata jadi ngantuk-ngantuk gimana gitu, wkwk. Namun, teman saya memaksa untuk segera turun karena khawatir hujan jatuh dari langit (yang saat itu terasa sangat dekat).


[ Maka, nikmat manalagi yang kamu dustakan, Dek? ]

Akhirnya, setelah selesai poto-poto ria, kami turun sambil ngobrol ngalor-ngidul, menceritakan hal-hal yang yang entah penting atau tidak. Namun, hal itulah yang menjadikan saya selalu rindu untuk kembali pulang dan mengajak teman saya berkunjung ke tempat-tempat yang belum pernah kami kunjungi. 

See you in the next trip, guys ^^

#Credit photo : by Me
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Ketika akhirnya [lagi-lagi] saya diberi kesempatan untuk mudik [ceritanya saya ini anak rantau, wkwk] waktu itu saya memilih untuk main-main ke telaga Claket, Wonogiri.

Yep, telaga yang tepatnya terletak di Sendangijo, Selogiri, Wonogiri - Jawa Tengah itu memang lagi hits banget akhir-akhir ini. Banyak foto-foto instagram maupun DP BBM yang menampilkan keindahan telaga tersebut. Dan sebagai anak kecil yang masih suka main [?] hati saya terketuk juga untuk mengunjungi tempat tersebut.   

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

ABOUT ME

About Me
Films maniac who loves smell of lemons and earth after the rain. Read horror stories and do lettering.

Popular Post

  • Resep-resep Unik in Game LifeAfter
    Udah pada tau game LifeAfter belom? Yup, di postingan sebelumnya, saya udah menceritakan tentang beberapa keunikan dan apa saja yang b...
  • Confessions, Kegilaan di Setiap Pengakuan
    Judul : Confessions Judul asli : Kokuhaku Penulis : Minato Kanae Penerjemah : Clara Canceriana, Andry Setiawan Cetakan Pertama : ...
  • 10 Lagu Lawas Ini Dijamin Bikin Kamu Merasa Balik ke Masa Lalu!
    Yuhuuu, karena bosan sama playlist yang itu-itu mulu, saya akhirnya mencoba untuk mencari-cari lagu-lagu lama. Lagu saat SD, SMP, poko...
  • Catatan Liburan di Taman Safari, Bogor
    Pokoknya, jalan-jalan emang nggak ada matinya. Seperti yang saya alami bersama dengan rekan-rekan kerja satu tim, akhir April lalu. Kam...
  • It's Not Just A Hobby, It's Life!
    Sampai sekarang, bahkan ketika saya merasa ada hobi-hobi lain yang lebih nge-hits dan kekinian, seperti traveling, kuliner, d...

Categories

Books Budaya Festival Film Foods Game Giveaway Hobby Indonesian Book Indonesian Film Jakarta Jejepangan K-Drama Kuliner Music Notes Novel One Ok Rock Place To Eat Review Romance Teenlit Tips & Tricks Travel True Story Visual Kei What to Eat Wisata Wonogiri Writing

Recent Post

    Blog Archive

    • ▼  2025 (4)
      • June 2025 (1)
      • May 2025 (1)
      • April 2025 (1)
      • March 2025 (1)
    • ►  2024 (5)
      • November 2024 (1)
      • September 2024 (2)
      • March 2024 (1)
      • January 2024 (1)
    • ►  2023 (9)
      • October 2023 (1)
      • September 2023 (2)
      • August 2023 (1)
      • June 2023 (1)
      • May 2023 (1)
      • March 2023 (1)
      • February 2023 (1)
      • January 2023 (1)
    • ►  2022 (9)
      • November 2022 (1)
      • October 2022 (1)
      • September 2022 (1)
      • August 2022 (1)
      • July 2022 (1)
      • June 2022 (1)
      • May 2022 (1)
      • March 2022 (1)
      • January 2022 (1)
    • ►  2021 (6)
      • November 2021 (1)
      • October 2021 (1)
      • September 2021 (1)
      • July 2021 (1)
      • April 2021 (1)
      • February 2021 (1)
    • ►  2020 (5)
      • December 2020 (1)
      • October 2020 (1)
      • June 2020 (1)
      • April 2020 (1)
      • February 2020 (1)
    • ►  2019 (7)
      • December 2019 (1)
      • October 2019 (1)
      • September 2019 (1)
      • August 2019 (1)
      • June 2019 (1)
      • March 2019 (1)
      • January 2019 (1)
    • ►  2018 (4)
      • September 2018 (1)
      • April 2018 (1)
      • February 2018 (1)
      • January 2018 (1)
    • ►  2017 (10)
      • December 2017 (1)
      • November 2017 (1)
      • October 2017 (1)
      • September 2017 (1)
      • August 2017 (2)
      • July 2017 (1)
      • May 2017 (1)
      • March 2017 (1)
      • February 2017 (1)
    • ►  2016 (14)
      • December 2016 (1)
      • November 2016 (2)
      • October 2016 (2)
      • August 2016 (2)
      • July 2016 (1)
      • June 2016 (1)
      • May 2016 (1)
      • April 2016 (2)
      • March 2016 (2)

    Follow My Blog

    Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates