Pages

  • Home
  • BOOK REVIEW
  • FILM
  • MUSIC
  • TRAVEL
  • GAME
  • KULINER
Facebook Instagram Google + E-mail

Dream Liner


Terakhir kali ke Girimanik, kalo nggak salah di tahun 2016. Sudah 7 tahun rupanya tidak mampir ke tempat yang penuh kenangan ini. Hehe *curhat. Dulu saat masih masa-masa sekolah, ketika class meeting, suka main ke Girimanik walau lokasinya agak jauh. Nah, pada liburan Idul Fitri April 2023 kemarin, saya dan doi, serta teman saya dan doinya juga (wkwk) memutuskan untuk berkunjung ke Girimanik. Katanya, tempatnya jadi makin keren dan makin banyak spot fotonya. 
 
Jam 10 siang, kami otewe menuju Girimanik. Bagi yang belum tau lokasinya, Girimanik berada di Ngerapah, Desa Setren Kec. Slogohimo, Kab. Wonogiri, Jawa Tengah. Sekitar 30 km dari kota Wonogiri ke arah Ponorogo. Untuk menuju ke Setren, dari rumah sakit Amal Sehat Slogohimo, terus ke utara, kira-kira 10 km. 

Kurang lebih sekitar 45 menit berkendara, sampailah kami di Desa Setren. Di pintu masuk sudah ada ramai-ramai, untuk Mountain Camp letaknya di dekat pintu masuk. Namun, karena pengen ke air terjun, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju area air terjun yang memakan waktu kira-kira 15 - 20 menit lagi. Hati-hati ya, karena jalannya cukup curam dengan salah satu sisinya adalah jurang. 
 
Setelah sampai, kami segera memarkirkan motor. Sebelum melakukan trekking ke air terjun, kalian bisa beristirahat sebentar menikmati udara pegunungan di area pinus. Girimanik memiliki 3 air terjun. Air Terjun Ismoyo, Manikmoyo dan Tejomoyo. Area pinusnya sangat nyaman dengan pondok-pondok penjual makanan. Kalian bisa bersantai sambil memakan cemilan atau berswafoto dengan latar belakang hutan pinus yang asri. 
 
[ Menikmati Suasana Girimanik ]
Sangat disarankan untuk mengisi perut terlebih dahulu sebelum memulai perjalanan menuju air terjun. Karena lokasinya lumayan jauh dari area pinus dengan medan yang cukup menguras tenaga. Kami pun makan di salah satu pondok penjual pecel dan makan pop mie. 
 
Perut sudah terisi, hari mulai siang, kami pun memulai trekking menuju air terjun Manikmoyo. Di awal perjalanan, medan masih belum begitu sulit. Ada bagian jalan yang dicor menggunakan semen, untuk memudahkan kendaraan warga yang melintas. Udara di sekitar masih begitu sejuk dengan pepohonan yang cukup rindang. Kami berjalan santai sambil berfoto dan menikmati pemandangan. Kami juga melewati kebun kopi dan pondok kecil yang bisa dipakai berteduh kalau hujan turun. 
 
[ Trekking Menuju Air Terjun ]
[ Kebun Kopi ]
 Akhirnya, setelah kurang lebih satu setengah jam trekking, kami sampai juga di area air terjun. Kami tidak begitu banyak menemukan pengunjung lain, karena memang lokasinya cukup jauh. Kami hanya bertemu beberapa segerombolan anak kecil, mungkin seusia SMP dan beberapa pengunjung wanita yang sepertinya anak kuliahan. 
 
Untuk menuju ke air terjun Manikmoyo, pengunjung harus melakukan trekking sejauh kurang lebih 2 km. Waktu tempuh apabila berjalan santai adalah sekitar satu setengah jam. Cukup melelahkan, ya. Namun, kelelahan itu akan terbayar ketika sampai di area air terjun. Air terjun yang memiliki tinggi hampir 70 meter ini sangat indah. Sejuknya udara pegunungan akan membuat kamu betah berlama-lama di sini, apalagi sambil makan jajanan, wkwk. 
 
[ Air Terjun Manikmoyo ]
Setelah puas bermain-main di air terjun, kami memutuskan untuk kembali. Ketika kembali, gerimis sempat turun. Namun, karena kondisi pepohonan yang rindang, kami masih bisa berjalan pelan-pelan. Sesampainya di area pinus, masih ada beberapa pengunjung yang menikmati keasrian Girimanik. Namun, karena hari mulai sore dan kondisi langit agak mendung, kabut pun muncul. Karena hari sudah mulai sore, sekitar jam 3, kami pun meninggalkan area pinus. Kami berniat untuk mampir sebentar di Girimanik Mountain Camp. 

Girimanik Mountain Camp memiliki konsep resto dan penginapan. Untuk masuk ke area ini, kalian hanya perlu membayar tiket masuk sebesar 5000 rupiah per orang. Cabin yang tersedia tidak begitu besar, hanya berkapasitas 2 orang dewasa. Apabila ingin menginap, sebaiknya booking terlebih dahulu.

Bagi pengunjung yang tidak ingin menginap, di sini banyak spot foto yang menarik dengan background pegunungan. Selain kabin-kabin yang berjajar (di sebelah kanan), bagi yang tidak ingin menginap, kalian juga bisa menikmati suasana di Girimanik sambil nongkrong dan makan. Di sini ada restoran yang menyediakan makanan-makanan khas Jawa dan camilan bagi pengunjung yang hanya ingin singgah. Di sekitar lokasi sudah disediakan tempat duduk dengan view pegunungan yang asri serta ada beberapa gazebo di bagian bawah.
 
[ Suasana di Girimanik Mountain Camp ]
[ Kabin Girimanik Mountain Camp ]
Berikut adalah foto salah satu kabin yang berada di Girimanik Mountain Camp. Bentuk kabinnya sendiri sangat mungil seperti tenda dan kapasitasnya hanya bisa muat sekitar 2 orang dewasa. Tinggal di dalam kabin dengan suasana pegunungan yang asri, bisa jadi pilihan yang cocok untuk melepas penat. 
 
Sebelum pulang, kami menyempatkan diri untuk makan sore di Girimanik Resto. Salah satu menu yang kami pesan adalah tahu gejrot. Tahu gejrot merupakan makanan khas Cirebon yang terbuat dari tahu goreng yang dipotong kecil-kecil dan disiram dengan kuah yang telah diberi ulekan cabai, bawang putih, bawang merah, belimbing wuluh dan gula. Tahu gejrot biasa disajikan di layah kecil.

Berbeda dengan area air terjun yang hanya buka sampai jam 5 sore, untuk Girimanik Mountain Camp, buka sampai pukul 10 malam. Hmm, bisa jadi tempat yang bagus buat malam mingguan, ya? 

Girimanik Waterfall
Operational Hours : 08.00 AM – 05.00 PM
 
Girimanik Mountain Camp
Operational Hours : 08.00 AM – 22.00 PM
Location : Ngerapah, Setren Village, District. Slogohimo, Wonogiri, Central Java
 
Credit Photo
Personal Collection by Me (Nira Kunea)

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
[ View Dari Puncak Secokro ]
Seperti ritual di tahun-tahun sebelumnya, setiap akhir atau awal tahun, bagi anak rantauan seperti saya, pasti akan menyempatkan waktu untuk mengunjungi kampung halaman. I'm back home because I'm homesick, wkwk. Dan rasanya, liburan kali ini adalah liburan yang paling spektakuler. Kenapa spektakuler? Pasalnya, selama lima hari di rumah dan hujan turun terus setiap menjelang siang, wkwk.

Syukurnya, saya masih diberi kesempatan untuk main-main sebentar ke Purwantoro, daerah Wonogiri Timur bersama teman masa kecil saya. Awalnya kami bingung-bingung banget mau main ke mana. Kalau main jauh-jauh ngeri kejebak hujan di jalan (karena memang lagi musimnya). Kalau yang dekat, hampir sudah dikunjungi semua, wkwk. Jadi serba salah, deh. Namun, setelah Googling sejenak, akhirnya kami memutuskan untuk ke Puncak Secokro yang terletak di desa Sumberrejo, Bakalan, Kec. Purwantoro. 

Butuh perjuangan khusus untuk sampai ke tempat yang menyenangkan ini. Ceritanya, kami tuh nggak tau jalan dan hanya mengandalkan Google Maps yang (kadang) menyesatkan. Kalau di kota besar, pakai Google Maps kita bisa sampai. Tapi, kalau di daerah pedesaan seperti ini, kadang malah bisa disasarin sampai ke tempat antah berantah, wkwk. Setelah satu setengah jam perjalanan dan bertanya ke lebih dari lima orang (omegat haha), akhirnya kami sampai juga di tempat yang sebenarnya sudah hits dari tahun 2017 tersebut. 


[ Negeri di Atas Awan ]


Puncak Secokro ternyata lebih tinggi dari Bukit Cumbri loh. Namun, pendakiannya tidak terlalu jauh karena motor bisa dibawa sampai ke atas, dekat dengan puncaknya. Kami berkunjung bukan ketika hari libur, pas hari Senin siang. Dan kaget ketika suasana di gerbangnya sepi sekalih pemirsah, wkwk. Namun, hal itu tidak menyurutkan tekad kami. Masa sudah jauh-jauh otewe nggak menghasilkan apa-apa, kan nggak lucu, sumpah. Akhirnya, kami mendaki sendiri bermodal nekat dan mengikuti jalan setapak. Karena sempat ragu, kita jadinya bolak-balik dua kali. Hahaha. 

Sampai di atas, ternyata tempatnya asli keren. You can see everything green and relax your mind. Pemandangan hijau yang asri memang selamanya akan memanjakan mata dan membuat pikiran tenang. Ada untungnya juga kami berkunjung pas bukan hari libur. Pasalnya, ketika di atas, sama sekali nggak ada manusia lain selain kami berdua. Jadinya, kami bisa puas poto-poto tanpa merasa terganggu atau pun risih. Dan kocaknya lagi, kami merasa hanya kami yang memiliki tempat ini, hahaha. 



[ Ngeksis dulu, guys ✌ ]

Saat duduk di lincak (bangku yang terbuat dari bambu) dan memandang perbukitan serta deretan perumahan dan perkebunan warga, saya merasa nyaman dan hampir nggak ingin meninggalkan tempat ini. Apalagi saat itu sayup-sayup terdengar musik campursari yang membuat mata jadi ngantuk-ngantuk gimana gitu, wkwk. Namun, teman saya memaksa untuk segera turun karena khawatir hujan jatuh dari langit (yang saat itu terasa sangat dekat).


[ Maka, nikmat manalagi yang kamu dustakan, Dek? ]

Akhirnya, setelah selesai poto-poto ria, kami turun sambil ngobrol ngalor-ngidul, menceritakan hal-hal yang yang entah penting atau tidak. Namun, hal itulah yang menjadikan saya selalu rindu untuk kembali pulang dan mengajak teman saya berkunjung ke tempat-tempat yang belum pernah kami kunjungi. 

See you in the next trip, guys ^^

#Credit photo : by Me
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Ketika akhirnya [lagi-lagi] saya diberi kesempatan untuk mudik [ceritanya saya ini anak rantau, wkwk] waktu itu saya memilih untuk main-main ke telaga Claket, Wonogiri.

Yep, telaga yang tepatnya terletak di Sendangijo, Selogiri, Wonogiri - Jawa Tengah itu memang lagi hits banget akhir-akhir ini. Banyak foto-foto instagram maupun DP BBM yang menampilkan keindahan telaga tersebut. Dan sebagai anak kecil yang masih suka main [?] hati saya terketuk juga untuk mengunjungi tempat tersebut.   

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Karena terbatasnya waktu, pada liburan Hari Raya kemarin, saya benar-benar nggak bisa main ke tempat yang agak jauhan. Jadilah, akhirnya saya dan beberapa teman saya hanya 'mampir' ke Setren. Yang memang lokasinya nggak begitu jauh dari tempat saya tinggal.

Desa Setren terletak di kecamatan Slogohimo, Wonogiri, Jawa Tengah. Sekitar 30 km dari kota Wonogiri ke arah Ponorogo. Untuk menuju ke Setren, dari rumah sakit Amal Sehat Slogohimo, terus ke utara. Mungkin ada sekitar 10 km.

Kalau dulu, pas jaman saya masih sekolah, jalan menuju ke Setren, benar-benar rusak parah. Aspalnya banyak yang mengelupas di sana-sini. Namun ketika kemarin saya berkunjung ke sana, sepertinya jalanannya sudah direnovasi. Walaupun belum semuanya.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Well, Desember lalu, saya dan beberapa teman lama [teman SD dan SMK] diberi kesempatan untuk mengunjungi Bukit Cumbri. Yep, bukit yang lagi nge-hits banget akhir-akhir ini [betewe, sekarang masih nge-hits, nggak?].

Bukit ini, terletak di perbatasan antara Ponorogo dengan Wonogiri. Tepatnya di Desa Kepyar, Purwantoro, Wonogiri. Tapi, juga masuk dalam desa Pager Ukir, Sampung, Ponorogo [pura-pura nggak bingung, xD]. Well, memang begitu kali, ya kalau suatu tempat masuk dalam daerah perbatasan. Harus dibagi dua biar nggak rebutan. Apa kamu juga perlu dibagi dua biar nggak jadi rebutan? # duh #abaikan
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar

ABOUT ME

About Me
Films maniac who loves smell of lemons and earth after the rain. Read horror stories and do lettering.

Popular Post

  • Resep-resep Unik in Game LifeAfter
    Udah pada tau game LifeAfter belom? Yup, di postingan sebelumnya, saya udah menceritakan tentang beberapa keunikan dan apa saja yang b...
  • Confessions, Kegilaan di Setiap Pengakuan
    Judul : Confessions Judul asli : Kokuhaku Penulis : Minato Kanae Penerjemah : Clara Canceriana, Andry Setiawan Cetakan Pertama : ...
  • 10 Lagu Lawas Ini Dijamin Bikin Kamu Merasa Balik ke Masa Lalu!
    Yuhuuu, karena bosan sama playlist yang itu-itu mulu, saya akhirnya mencoba untuk mencari-cari lagu-lagu lama. Lagu saat SD, SMP, poko...
  • Catatan Liburan di Taman Safari, Bogor
    Pokoknya, jalan-jalan emang nggak ada matinya. Seperti yang saya alami bersama dengan rekan-rekan kerja satu tim, akhir April lalu. Kam...
  • It's Not Just A Hobby, It's Life!
    Sampai sekarang, bahkan ketika saya merasa ada hobi-hobi lain yang lebih nge-hits dan kekinian, seperti traveling, kuliner, d...

Categories

Books Budaya Festival Film Foods Game Giveaway Hobby Indonesian Book Indonesian Film Jakarta Jejepangan K-Drama Kuliner Music Notes Novel One Ok Rock Place To Eat Review Romance Teenlit Tips & Tricks Travel True Story Visual Kei What to Eat Wisata Wonogiri Writing

Recent Post

    Blog Archive

    • ▼  2025 (4)
      • June 2025 (1)
      • May 2025 (1)
      • April 2025 (1)
      • March 2025 (1)
    • ►  2024 (5)
      • November 2024 (1)
      • September 2024 (2)
      • March 2024 (1)
      • January 2024 (1)
    • ►  2023 (9)
      • October 2023 (1)
      • September 2023 (2)
      • August 2023 (1)
      • June 2023 (1)
      • May 2023 (1)
      • March 2023 (1)
      • February 2023 (1)
      • January 2023 (1)
    • ►  2022 (9)
      • November 2022 (1)
      • October 2022 (1)
      • September 2022 (1)
      • August 2022 (1)
      • July 2022 (1)
      • June 2022 (1)
      • May 2022 (1)
      • March 2022 (1)
      • January 2022 (1)
    • ►  2021 (6)
      • November 2021 (1)
      • October 2021 (1)
      • September 2021 (1)
      • July 2021 (1)
      • April 2021 (1)
      • February 2021 (1)
    • ►  2020 (5)
      • December 2020 (1)
      • October 2020 (1)
      • June 2020 (1)
      • April 2020 (1)
      • February 2020 (1)
    • ►  2019 (7)
      • December 2019 (1)
      • October 2019 (1)
      • September 2019 (1)
      • August 2019 (1)
      • June 2019 (1)
      • March 2019 (1)
      • January 2019 (1)
    • ►  2018 (4)
      • September 2018 (1)
      • April 2018 (1)
      • February 2018 (1)
      • January 2018 (1)
    • ►  2017 (10)
      • December 2017 (1)
      • November 2017 (1)
      • October 2017 (1)
      • September 2017 (1)
      • August 2017 (2)
      • July 2017 (1)
      • May 2017 (1)
      • March 2017 (1)
      • February 2017 (1)
    • ►  2016 (14)
      • December 2016 (1)
      • November 2016 (2)
      • October 2016 (2)
      • August 2016 (2)
      • July 2016 (1)
      • June 2016 (1)
      • May 2016 (1)
      • April 2016 (2)
      • March 2016 (2)

    Follow My Blog

    Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates