Pages

  • Home
  • BOOK REVIEW
  • FILM
  • MUSIC
  • TRAVEL
  • GAME
  • KULINER
Facebook Instagram Google + E-mail

Dream Liner



 Jenis Film: Horror
Tanggal rilis: 25 Desember 2024
Produser: Rocky Soraya
Sutradara: Guntur Soeharjanto
Pemeran: Arifin Putra; Cinta Laura; Callista Arum
Durasi Film: 1 jam 43 menit

Akhir tahun 2024 ditutup dengan menonton film horor. Horor lagi horor lagi. Film horor emang nggak ada abisnya. Dan sebagai penggemar segala sesuatu yang berbau horor, saya sangat senang dengan rilisnya film horor yang bejibun setiap bulan, wkwkwk.

Panggonan Wingit 2; Miss K memiliki perbedaan cerita dan lokasi yang mana tidak berkaitan dengan film pertamanya. Jadi, film Miss K ini bukan merupakan lanjutan dari Panggonan Wingit 1 ya, guys. Konon, film Miss K ini terinspirasi dari sebuah apartemen angker di Surabaya.

Film Miss K bercerita tentang Alma (Cinta Laura) dan adiknya, Mia (Callista Arum), yang pindah dari Jakarta ke Surabaya setelah ibunya meninggal. Alma bekerja sebagai manajer di Apartemen Sasmaya. Di sana, Alma dan Mia bertemu dengan Rayyan (Arifin Putra), kekasih Alma sekaligus polisi yang mencoba menguak misteri kasus mutilasi. 

Apartemen Sasmaya merupakan apartemen yang memiliki cukup banyak penghuni. Namun anehnya, lantai 6 dari apartemen tersebut ditutup dan tidak boleh dimasuki oleh siapapun. Suatu hari, salah satu penghuni apartemen melaporkan adanya kebocoran pada plafon di unitnya. Penghuni tersebut berada di lantai 5. Jadi mau tak mau, Alma dan Mia harus melakukan pengecekan pada unit di atasnya, yaitu di lantai 6.

Akses ke lantai 6 ini benar-benar ditutup, pintu darurat lewat tangga pun sampai digembok. Namun, Alma dan Mia bersikeras untuk tetap mengecek keadaan di lantai tersebut. Sesampainya di sana, kondisi lantai tersebut sangat kotor karena sudah lama tidak ditempati. Tak berlama-lama, mereka pun segera mengecek unit yang mereka yakini sebagai sumber masalah. Ketika memasuki unit tersebut, mereka mendengar suara gemericik air dan suara perempuan. Namun, mereka kaget ketika mendapati bahwa suara tersebut merupakan suara dari Miss K, sosok penunggu unit tersebut. Miss K mengucapkan kalimat "patang dino, wektu maghrib". 

Mereka pun berlari ketakutan dan tidak menyadari bahaya yang sedang mengintai mereka dalam 4 hari ke depan. Namun, di hari-hari berikutnya, rentetan kejadian menyeramkan dan tak masuk akal mulai dialami oleh Alma dan Mia. Mereka pun harus menemukan cara agar mereka selamat sebelum waktu maghrib di hari keempat. 

Alurnya bertempo sedang, nggak lambat dan nggak terlalu cepat. Ceritanya juga nggak bertele-tele. Bagi saya plot twist-nya lumayan dapat karena dari awal saya nggak menyangka bahwa penjahat sebenarnya adalah orang itu, hehe. Memang nggak cocok jadi detektif sepertinya, wkwkwk. Jumpscare-nya oke, ada beberapa adegan gore yang mungkin akan membuat penonton merasa ngilu. 

Anyway, jujur saya nggak expect kalo akting Cinta Laura bakalan cukup bagus di sini, hihihi. Mas Arifin Putra juga memerankan tokoh Rayyan dengan sangat apik. Pokoknya bagi kalian yang suka horor yang ringan dan nggak bertele-tele, film ini cocok dimasukkan ke list tontonan di waktu luang. 

Rate: 8/10

Credit Photo:
Koran Tegal





Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Jenis Film: Action, Sci-Fi
Produser: Kelly Marcel, Tom Hardy
Sutradara: Kelly Marcel
Casts: Tom Hardy, Juno Temple, Chiwetel Ejiofor, Rhys Ifans
Durasi Film: 1 jam 49 menit

Wah, wah, wah ... siapa yang lagi nungguin kelanjutan kisah Venom yang melarikan diri ke bumi? Yup, akhirnya Venom The Last Dance rilis di Indonesia pada tanggal 23 Oktober 2024 kemarin dan kembali menghadirkan duo Eddie Brock dan si hitam Venom. Film ini ditulis, diproduksi dan disutradarai oleh Kelly Marcel berdasarkan cerita yang dia tulis bersama Tom Hardy. Tom Hardy ini selain berperan sebagai Eddie, doi juga bertindak sebagai produser lho! 

Venom The Last Dance menceritakan tentang perjalanan Eddie dan Venom lari dari para pemburunya, termasuk para militer yang mengincar mereka untuk dijadikan bahan penelitian. Pada film ketiga ini, musuh mereka adalah pasukan xenophage yang dikirim oleh Knull, supervillain yang menciptakan simbiot. 

Perjalanan mereka sangat seru! Bahkan ada adegan di mana Eddie dan Venom menempel di badan pesawat untuk lari dari kejaran xenophage. Saat terdampar di suatu tempat yang sepi, Eddie bertemu dengan keluarga Martin, sebuah keluarga yang sangat tertarik dengan keberadaan alien dan berniat untuk "mampir" ke Area 51. Sebuah area terlarang yang menjadi tempat pemusnahan alien sekaligus tempat yang memiliki laboratorium rahasia. 

Selain terhibur dengan kelakuan Eddie dan Venom yang kocak dan susah banget rukunnya, CGI film ini juga sangat memanjakan mata. Banyak epic moment saat para symbiote bersatu untuk melawan xenophage. Xenophage ini kuat banget, satu aja bisa bikin beberapa simbiot kerepotan. Apalagi ada banyak xenophage yang dikirim oleh Knull. Alasan Knull mengirim xenophage ini adalah karena Eddie dan Venom memiliki Kodeks yang bisa digunakan untuk membebaskan Knull yang sedang terpenjara di Klyntar. 

Kodeks bisa musnah apabila salah satu dari mereka (Eddie atau Venom) mati. Knull, pastinya akan terus-menerus mengirim pasukan xenophage sampai ia berhasil mendapatkan Kodeks. Nah, di sinilah dilema Venom. Di satu sisi ia ingin terus bersama dengan Eddie. Namun, dia juga tidak ingin bumi terus diserang kekacauan. 

Akhirnya, Venom memilih untuk mengorbankan dirinya. Ini adalah solusi terakhir karena banyak simbiot yang telah hancur saat melawan xenophage. Well, apakah ini akhir dari kisah Venom sesuai dengan judulnya The Last Dance? 

Menjelang akhir film, ternyata ada satu simbiot pink yang berhasil lolos, wkwk. Nah, di bagian post credit, ada adegan Knull sedang marah sambil berucap "semua orang akan terbakar dan kalian akan menontonnya" karena gagal mendapatkan Kodeks. Apakah ini jadi clue akan ada film lanjutan Venom? Atau nantinya Knull akan menjadi penjahat di universe Marvel yang lainnya? 

Daripada itu, yuk tonton dulu keseruan Eddie Brock dan si black one Venom di bioskop kesayangan kamu sebelum kehabisan tiketnya! 

*Credit Photo:
rri.co.id (dari alphacoders)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Jenis Film: Horror
Produser: Nunu Datau, Agung Saputra
Sutradara: Bobby Prasetyo
Penulis: Lele Laila
Casts: Yasmin Napper, Arbani Yasiz, Ria Ricis
Durasi Film: 1 jam 42 menit

Sejak tahun 2023, kayaknya produksi horor film di Indonesia lagi banyak-banyaknya. Terbukti menjelang akhir tahun 2024 ini masih banyak banget film horor yang akan rilis. Jadi bingung mau nonton yang mana dulu wkwkw.  

Nah, weekend ini, saya, doi, temen doi dan adik laki-laki saya memutuskan untuk menonton salah satu film yang masih tayang di bioskop, yaitu Thaghut. Awalnya saya mengira judul ini berarti "takut" karena pengucapannya yang serupa dengan kata takut. Namun, setelah mencari-cari di internet, ternyata thaghut memiliki makna tersendiri. Berikut melansir dari web muslim.or.id mengenai arti kata thaghut:

Secara bahasa, kata thagut diambil dari kata (Ø·َغَÙ‰) yang artinya melampaui batas.

Secara istilah syar’i yaitu sebagaimana disampaikan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah : thagut adalah segala sesuatu yang menyebabkan seorang hamba melebihi batasannya, baik itu sesuatu yang diibadahi, diikuti, atau ditaati. Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah menjelaskan bahwa thagut ada banyak. Thagut yang paling besar ada lima : iblis – semoga Allah melaknatnya-, siapa saja yang dijadikan sesembahan dan dia ridho, barangsiapa yang mengajak manusia untuk menyembah dirinya, barangsiapa yang mengetahui tentang ilmu ghaib, dan barangsiapa yang berhukum dengan hukum selain yang Allah turunkan.

Sumber: https://muslim.or.id/11364-siapakah-thaghut.html

Film diawali dengan kematian Abah Mulya yang dipercaya sebagai "orang pintar" yang mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit hinggal viral di berbagai stasiun TV. Namun, kematian ini terasa sangat menyeramkan karena Abah Mulya meninggal dengan kepala terpenggal. 

Ainun (Yasmin Napper), seorang anak perempuan yatim piatu yang tinggal di sebuah pesantren, sangat mengidolakan Abah Mulya dan sering sekali melihat sosoknya di TV. Ainun sangat terkejut dengan kematian Abah Mulya, terlebih lagi ia juga mendapatkan fakta bahwa ternyata dia adalah anak dari Abah Mulya. Selama ini ia diasuh oleh Uwak Budi dan menyembunyikan identitas Ainun yang sebenarnya karena wasiat dari Ibu Ainun yang ingin menjauhkan Ainun dari Abah Mulya. 

Ainun pun marah dan berniat untuk melayat ke kediaman Abah Mulya. Kepergian Ainun didampingi oleh kedua temannya, yaitu Bagas (Arbani Yasiz) dan Rini (Ria Ricis). Sesampainya di desa, mereka disambut oleh Lingga, tangan kanan Abah yang ingin mewujudkan wasiat terakhir Abah. Yaitu menjadikan Ainun sebagai penerus padepokan Abah Mulya. Namun, untuk mewujudkan hal tersebut, Ainun harus melakukan serangkaian ritual yang mengerikan. Dan dari sinilah teror demi teror dimulai. 

Bagas dan Rini mulai merasakan adanya kejanggalan pada desa tersebut. Salah satunya adalah Bagas yang dilarang melantukan adzan oleh Lingga. Terlebih ketika mendapatkan keterangan tambahan dari Rahmat - anak dari istri kedua Abah, serta Ajeng - istri ketiga Abah. Mereka semakin yakin bahwa ilmu yang dimiliki Abah merupakan ajaran sesat dan harus segera membawa Ainun pergi dari desa tersebut. 

Jumpscare-nya lumayan oke, beberapa kali dibuat kaget dengan kemunculan setan yang tiba-tiba wkwk. Juga ada beberapa adegan yang cukup brutal, kalo nggak kuat, tutup mata aja. Saya suka film ini karena mengandung beberapa pesan religi, bahwa sesungguhnya Allah merupakan sebaik-baiknya penolong. Saya kadang sampai merinding ketika adegan Bagas melantukan azan dan ayat-ayat suci dengan penuh keyakinan hingga membuat sang iblis kepanasan. 

Menurut saya film ini cukup ringan dan alurnya pun sederhana, nggak yang terlalu diajak mikir pokok masalahnya apa dan bagaimana solusinya. Cukup fokus menikmati alur film hingga akhir. Oh ya, akting para pemainnya juga bagus banget, Arbani Yasiz sukses memerankan tokoh Bagas yang layaknya seorang hero dalam memutus rantai ajaran sesat Abah Mulya. Ria Ricis juga memerankan tokoh Rini dengan apik. Perannya sebagai santriwati yang kadang suka usil cukup memberikan hiburan tersendiri bagi para penonton. 

Nah, bagi kalian yang pengen coba nonton film horor, mungkin bisa dimulai dengan nonton film Thaghut. Yuk nonton sebelum kehabisan tiketnya!

--------------------------------------------------------------------------
Credit Photo: 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?curid=4333068

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Kayaknya bulan Oktober ini memang lagi hype banget film horor ya, guys. Banyak film horor yang rilis di bioskop. Sebut saja di antaranya Di Ambang Kematian, Bangku Kosong: Ujian Terakhir, Janin Iblis Neraka, Indigo, Pamali: Dusun Pocong dan The Exorcist. Mengikuti hype tersebut, akhirnya saya dan doi memutuskan untuk menonton salah satu film tersebut di akhir pekan. Yup, pilihan kami akhirnya jatuh kepada Pamali: Dusun Pocong. Berikut detail filmnya :

Jenis Film: Horror
Produser: Andi Suryanto, Marcella Daryanani, Willy Suryanto
Sutradara: Bobby Prasetyo
Penulis: Evelyn Afnilia
Produksi: LYTO Pictures
Casts: Fajar Nugra, Yasamin Jasem, Dea Panendra, Bukie B. Mansyur, Arla Ailani, Anantya Kirana
Durasi Film: 99 menit
 
Film ini menceritakan tentang tiga orang petugas medis (Gendis, Puput dan Mila) dan dua orang penggali kubur (Deden dan Cecep) yang ditugaskan untuk membantu sebuah dusun terpencil yang terkena wabah penyakit. Wabah tersebut berupa penyakit kulit yang menular apabila bersentuhan dengan penderitanya. Setiap hari, banyak warga yang jatuh sakit dan bahkan ada korban meninggal yang sudah beberapa hari belum dikuburkan karena keterbatasan SDM. 

Selain wabah penyakit dan banyaknya korban yang berjatuhan, sejak kedatangan mereka ke dusun tersebut, mereka menyadari bahwa ada sosok lain yang menghantui mereka, yaitu pocong. Awalnya mereka berpikir bahwa pocong tersebut sudah ada sebelum mereka datang, namun ternyata mereka salah. Kemunculan pocong tersebut dikarenakan ada salah satu dari mereka yang melanggar pantangan/ pamali desa tersebut. 

Setiap dusun memiliki adat istiadatnya masing-masing. Begitupun dengan dusun tersebut. Ternyata pantangan/ pamali di dusun itu sedikit berbeda atau bahkan bertentangan dengan pamali pada umumnya. Hal itulah yang menyebabkan kelima orang tersebut tidak sadar bahwa telah melanggar pantangan dan menyebabkan munculnya pocong-pocong gentayangan. 

Ini jumpscare-nya gila banget, sih. Awalnya saya mikir ini film nggak ada serem-seremnya sama sekali. Tapi, setelah mereka sampai di dusun itu, wah. Atmosfer horornya langsung kerasa. Ini vibes-nya mirip-mirip sama KKN Desa Penari, tapi asli, film ini menurut saya jauh lebih serem. Akses menuju dusun tersebut harus menyeberang (entah laut entah danau) yang lumayan luas, jadi kebayang kan betapa terisolir lokasinya. Walaupun listrik sudah masuk ke dusun itu, tapi tetep aja horor. Rumahnya tipe-tipe jaman dulu yang masih terbuat dari kayu dan masih banyak hutan-hutan di sekitarnya. 
 
Peran Fajar Nugra sebagai Cecep (yang dulu juga main di film KKN Desa Penari) sedikit menghibur penonton dengan tingkahnya yang kocak. Ya, walaupun dominan seremnya, tapi ada selingan lucu-lucunya dikitlah, wkwk. 
 
Minusnya, sampai film berakhir, tidak ada penjelasan mengenai asal-usul wabah tersebut. Mungkin bakal ada sequel? Terus, ada beberapa shoot pengambilan film yang agak goyang-goyang sampe bikin saya yang memiliki mata minus ini agak pusing T_T Kemudian, ada beberapa part yang ngeselin, tapi it's okay, bukan film horor namanya kalo nggak bikin penonton geregetan, haha.  
 
Overall, film ini bagus dan serem. Ada salah satu adegan yang bikin saya ikutan teriak bareng sama tokoh saking kagetnya. Jumpscare-nya saya acungi jempol, sih. Gokil. Namun, karena ceritanya tentang wabah penyakit, mungkin ada adegan yang agak disgusting. Buat orang yang agak jijik sama hal-hal kayak gitu, sebaiknya jangan bawa makanan ke dalam, karena pasti nggak akan nafsu makan, wkwk. 
 
Rate: 8/10. 

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Credit Photo : IMDB 
https://www.imdb.com/title/tt27958078/mediaviewer/rm1102732289/


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Guardians of the Galaxy, ini merupakan satu-satunya seri Marvel yang saya ikuti sejak perilisan volume pertamanya pada 2014 silam. Banyaknya karakter unik (ciri khas Marvel sepertinya memang terletak pada karakternya yang unik-unik) dan jalan ceritanya yang berlokasi di luar angkasa, menjadikan GOTG sebagai film favorit yang worth it untuk ditonton.
 
Pada GOTG vol 2, diceritakan bahwa Groot mengorbankan nyawanya demi teman-temannya. Namun, pada akhirnya, Baby Groot lahir kembali dengan tubuh pohonnya yang masih kecil dan imut. Asli, sih, karakter Groot ini lucu dan kocak banget. Apalagi dia cuma bisa ngomong I am Groot doang, wkwkw.  

Film diawali dengan penyerangan Adam Warlock yang diperankan oleh Will Poulter (yang juga memerankan tokoh Gally dalam film The Maze Runner) ke markas GOTG dan membuat keributan di sana. Beberapa superhero GOTG terluka dan yang paling parah adalah Rocket. Rocket merupakan salah satu pahlawan galaxy yang memiliki bentuk fisik seperti rakun dan merupakan pilot kapal GOTG. Rocket terluka sampai koma. 

Ada satu cara untuk menyelamatkan Rocket, yaitu dengan pergi ke markas High Evolutionary, sang pencipta Rocket Raccoon sekaligus villain dalam GOTG vol 3. Dan, perjalanan geng Guardian yang dipimpin oleh Peter Quill sang Star-Lord untuk menyelamatkan Rocket dan menjaga keseimbangan alam semesta pun dimulai. 

Seperti film-film sebelumnya, background musik dalam GOTG memang selalu berkelas. Sebut saja Creep dari Radiohead, Since You Been Gone milik Rainbow, In the Meantime - Spacehog, Do You Realize? yang dibawakan oleh The Flaming Lips hingga We Care a Lot-nya Faith No More atau No Sleep Till Broklyn - Beastie Boys. Lagu-lagu tersebut memang cocok untuk vibes GOTG dan membuat film semakin memukau. 

Selain musiknya yang khas, James Gunn telah berhasil mengaduk-aduk emosi penonton dengan kemunculan Teefs, Lylla dan Floor yang merupakan teman Rocket saat menjadi subjek eksperimen High Evolutionary. Nasib tragis yang mereka alami akhirnya menjelaskan masa lalu Rocket yang selama ini masih menjadi misteri. 
 
Tak hanya adegan sedih, adegan lucu pun tak ketinggalan. Mantis dengan segala tingkahnya yang polos dan sedikit konyol tapi kocak. Drax yang menyebalkan dan Groot yang hanya bisa mengucapkan kalimat I am Groot. Dialog-dialog para tokoh pun sukses mengundang tawa penonton. Terutama dialog antara Drax dan Mantis yang setiap saat selalu bertengkar, wkwk. 

Setiap tokoh di sini pun memiliki peran dengan porsi yang tepat dan memiliki kesempatannya masing-masing untuk "bersinar" sebagai pahlawan galaksi. Kesetiakawanan yang mereka bangun juga berhasil membuat penonton merasa dekat dengan geng Guardian. Hmm, rasa tidak rela apabila perjalanan geng luar angkasa ini berakhir. 

Lalu, bagaimanakah nasib Rocket Raccoon? Berhasilkah Star-Lord menyelamatkan nyawa Rocket dan menjaga teman-teman serta keseimbangan alam semesta? Segera ke bioskop terdekat ya, guys. Asli, nggak rugi nonton film ini. Disuruh rewatch pun, saya berangkat ~ (asal dibayarin, xixixi). 

Credit Photo: 
https://vapeboss.co.id/
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

A Quiet Place, adalah sebuah film horor Amerika yang disutradai oleh John Krasinski berdasar cerita yang ditulis oleh Bryan Woods dan Scott Beck. Film ini rilis di Indonesia pada tanggal 03 April 2018 dengan pemeran utamanya, John Krasinski, Emily Blunt, Millie Simmonds dan Noah Jupe. 

Potongan film A Quiet Place terus berseliweran di FYP TikTok saya (anak TikTok nih, guys, wkwk). Jadi, karena penasaran, akhirnya saya berniat untuk menonton versi lengkapnya. Walaupun tahun rilis untuk film pertamanya adalah tahun 2018, film ini masih worth it untuk ditonton. 

A Quiet Place menggambarkan dunia pasca-apokaliptik yang dihuni oleh monster buta, namun memiliki pendengaran yang sangat tajam. Suara sekecil apapun akan mengundang monster tersebut. Sampai-sampai, mereka yang masih bertahan hidup, harus berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat, berjalan tanpa alas kaki, dan makan menggunakan daun. 

Film ini nggak menggambarkan awal mula teror dimulai, namun lebih kepada cara bertahan hidup di dunia yang penuh dengan monster. Pada awalnya, kehidupan di dalam film ini berjalan lancar-lancar aja. Pergi ke sungai menangkap ikan, mengumpulkan informasi tentang monster, masak, makan, sampai main monopoli. Namun, masalah dimulai ketika Emily Blunt yang mengandung anak keempatnya, sudah memasuki masa kelahiran dan tidak ada seorang pun di rumah. 

Sejauh ini, belum ada plot twist yang ditemukan di film pertama, alurnya mengalir begitu saja. Suasana film juga sangat hening. Pas pertama nonton, saya udah pasang speaker dengan volume full, tapi tetap hening. Saya pikir speaker-nya rusak, ternyata memang film-nya yang minim suara. Haha. 

Film tentang apocalypse, memang selalu berhasil membuat ketegangan bagi para penontonnya. Begitu juga dengan A Quiet Place. Karena keheningannya, beberapa jump scare di film ini, sukses membuat saya kaget sampai deg-degan. Hati-hati bagi yang mau nonton di malam hari ya, ada suara dikit bakalan bikin parno, wkwk. 

John Krasinski, sutradara sekaligus pemeran Lee Abbott ternyata adalah suami dari Emily Blunt. Saya baru tahu, ketika membaca review tentang film ini. Pemeran Megan Abbott, Millie Simmonds yang di dalam film diceritakan tunarungu, ternyata tunarungu beneran. Katanya, John dan Emily, belajar bahasa isyarat dari Millie. 

Rate 8.5 dari saya untuk A Quiet Place karena atmosfer horor dan jump scare-nya yang oke banget. Jadi, mau lanjut nonton A Quiet Place 2? 


Sumber gambar:
https://www.kapanlagi.com/showbiz/film/internasional/sinopsis-a-quiet-place-bertahan-hidup-dalam-keheningan-sampai-kapan-24ec19.html
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Beberapa saat yang lalu, saat sibuk scroll Tiktok, muncul potongan sebuah film berlatar rumah susun yang agak jadul dari laman Netflix Indonesia. Saya langsung ingat, ini adalah salah satu film yang pengen banget saya tonton, tapi lupa wkwk. Thanks, Tiktok. Akhirnya saya bisa mengingat kembali dan kemudian memutuskan untuk segera nonton!

Film Fiksi merupakan sebuah film ber-genre drama dan psikologi-thriller yang rilis pada tahun 2008. Hmm, sudah empat belas tahun yang lalu. Film garapan Mouly Surya dan Joko Anwar ini dibintangi oleh Ladya Cheryl, Donny Alamsyah dan Kinaryosih. Mengisahkan tentang kehidupan di rumah susun daerah Jakarta yang diwarnai oleh karakter-karakter unik dari mata seorang perempuan yang sedang terobsesi oleh cinta dan rela melakukan apa saja untuk mendapatkan cintanya. 

Alisha (Ladya Cheryl) adalah seorang anak yang menderita tekanan mental karena saat kecil menyaksikan ibu kandungnya (Inong) bunuh diri dengan pistol milik ayahnya. Pistol tersebut sebenarnya akan digunakan ayah Alisha (Soultan Saladin) untuk membunuh Inong demi wanita lain. Sejak saat itu, Alisha merasa memiliki dunianya sendiri di balik rumah mewah ayahnya. Dia hanya berinteraksi dengan pengurus rumah, Bu Tuti (Rina Hassim) dan sopir sekaligus penjaga pribadinya, Pak Bambang (Egi Fedly). Alisha memiliki keahlian untuk memainkan cello, sebagai hiburan serta pengusir rasa sepi. 

Suatu hari, seorang lelaki bernama Bari (Doni Alamsyah) menggantikan seorang pekerja untuk membersihkan kolam renang di rumah Alisha. Alisha yang selama ini hanya berinteraksi dengan sedikit orang, merasa tertarik dengan Bari dan diam-diam memperhatikan lelaki tersebut. Ketika Bari sudah tidak bekerja, dengan diantar Pak Bambang, Alisha pergi ke Blok S dan melihat Bari di sana. Alisha kemudian mengikuti Bari sampai ke rumah susun. Ternyata Bari tinggal bersama dengan pacarnya, Renta (Kinaryosih). Alisha kemudian memperhatikan bahwa unit di sebelah unit yang ditinggali Bari kosong dan sedang mencari penyewa. 

Malam itu, setelah merenung, Alisha memutuskan untuk pindah diam-diam ke unit kosong tersebut. Dengan membawa koper dan cello miliknya, dia berhasil menipu Pak Bambang dan pergi ke rumah susun. 

Alisha memulai kehidupan di rumah susun menggunakan nama samaran, Mia. Dia kemudian berkenalan dengan Bari dan Renta. Lambat laun, bibit persahabatan muncul di antara ketiganya. Setiap malam, Alisha mendengar berbagai suara dari kamar Bari dan Renta. Cinta, marah, senang dan (you know-lah, ya, wkwk). 

Pada suatu kesempatan, Bari mengajak Alisha untuk berkeliling rumah susun. Ini merupakan penggalan film yang saya lihat di Tiktok. Dan memang pas banget untuk menarik perhatian penonton. Setiap lantai rumah susun tersebut dihuni oleh berbagai karakter dari kalangan yang berbeda. Kurang lebih seperti ini susunannya: 

1. Lantai 1 - pusat bisnis dan kebutuhan sehari-hari bagi penghuni rumah susun (ada salon, wartel, toko, dll). 
2. Lantai 2 - dihuni oleh warga-warga biasa. 
3. Lantai 3 - dihuni oleh waria dan transeksual. 
4. Lantai 4 - dihuni oleh pelacur kelas atas dengan kliennya para pejabat dan eksekutif. 
5. Lantai 5 - dihuni oleh pengedar narkoba yang sudah terkenal di sekitarnya. 
6. Lantai 6 - dihuni oleh para pekerja kantoran dan mahasiswa. 
7. Lantai 7 - dihuni oleh kaum gay, setiap Jum'at malam, mereka mengadakan pesta. 
8. Lantai 8 - dihuni oleh para istri simpanan, mereka tinggal di lantai atas agar keberadaannya tak mudah diketahui. 
9. Lantai 9 - lantai 9 ini dibiarkan kosong karena banyak kisah-kisah mistis yang beredar. 

Setelah kejadian itu, mereka menjadi dekat dan akhirnya diketahui bahwa Bari merupakan seorang penulis. Banyak cerita-cerita Bari yang mengangkat kehidupan di rumah susun, namun tak terselesaikan karena Bari bimbang dengan ending apa yang harus dia gunakan. Bari bingung karena sumber inspirasi tulisannya merupakan orang-orang yang masih hidup dan hidup mereka masih berjalan. Mulai dari sinilah, Alisha mulai mengaburkan batas antara realita dan fiksi. Dia bertekad untuk menciptakan akhir dari setiap kisah yang ditulis Bari.

Jujur aja, film ini berhasil mengaduk-aduk perasaan saya. Saya merasa hidup Alisha itu benar-benar hampa dan kosong, nggak punya teman. Kehidupannya hanya sebatas di dalam rumah mewah milik ayahnya. Ketika ada seseorang datang, akhirnya dia menjadi terobsesi dengan orang tersebut dan rela untuk melakukan apa saja. Walaupun dengan menyakiti atau bahkan membunuh orang lain. 

Pengambilan setting di rumah susun dan karakter-karakternya yang beragam juga terasa dekat dengan kehidupan di sekitar kita. FYI, walaupun ini film ber-genre thriller, tapi minim darah ataupun adegan-adegan sadis, ya. Jadi, aman banget bagi yang awalnya ragu mau nonton karena takut ada kejadian-kejadian seram di film, wkwk. 

Akting Ladya Cheryl juga keren parah. Dia bisa berperan jadi Alisha yang polos sekaligus jadi Mia yang sadis dan tak berperasaan. Oh ya, pertama kali lihat Ladya Cheryl itu di MV-nya Peterpan, Tak Ada yang Abadi. Emang kayaknya doi cocok untuk dapat peran diem-diem psiko. Lawan mainnya, Donny Alamsyah pun nggak kalah kece. Selama ini mungkin dia terkenal main di film laga kayak The Raid, Merantau ataupun Merah Putih. Namun, aktingnya di film drama ini juga oke punya. Dengan rambut gondrong, postur tubuh yang macho serta kepribadiannya yang friendly, ya pantes aja Alisha terobsesi sama ini orang, wkwk. 

Film ini saya kasih 9/10. Serius, selesai nonton tuh masih kayak kebayang-bayang Alisha sampe beberapa hari, wkwk. Bahkan, saya sempat menitikkan air mata saat nonton filmnya. Nggak salah sih film ini jadi pemenang di Festival Film Indonesia 2008. Yuk, buat yang penasaran gimana akhir kisah Alisha, Bari dan Renta, tonton film Fiksi! Tersedia di Netflix juga ya, guys ~

*Sumber gambar:
https://www.liputan6.com/on-off/read/4688578/nonton-fiksi-di-vidio-film-bertema-thriller-psikologi-karya-mouly-surya-dan-joko-anwar


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

KKN Desa Penari, mungkin bagi sebagian teman-teman, sudah tak asing lagi dengan judul itu. Yup, trit yang bermula dari akun SimpleMan di Twitter itu sempat booming di tahun 2019 bahkan sampai versi cetaknya diterbitkan. Dan sekarang, di tahun 2022 ini, trit tersebut sudah difilm-kan dan berhasil menarik sekitar tujuh juta penonton sejak penayangannya pertama kali pada 30 April 2022. 

Sejujurnya, saya belum membaca trit-nya di Twitter karena memang saat itu kurang tertarik walaupun saya adalah pencinta horor. Awalnya saya nggak tau kalo KKN Desa Penari ini bakal di-filmkan. Saat saya scroll Tiktok, kok beranda tiba-tiba isinya KKN semua dan heboh banget, wkwk. Karena penasaran, akhirnya ngajak doi nonton di bioskop terdekat. 

Karena sepertinya rame banget dan banyak yang pengen nonton, akhirnya kami memutuskan untuk pesan tiket secara online via M-tix. Bagi teman-teman yang malas antri dan takut nggak kebagian tiket untuk film terbaru, pesan tiket via online bisa jadi solusi, loh. Setelah checkout, nantinya akan dapat barcode yang bisa langsung di scan di mesin tiket tanpa perlu antri lagi. 

Untuk ceritanya sendiri, mungkin beberapa sudah ada yang pernah baca tritnya. Menceritakan tentang sekelompok mahasiswa yang melaksanakan KKN di sebuah desa terpencil. Saya menyebut terpencil karena akses menuju desa tersebut harus melewati hutan dan kalau digambarkan di film, listrik juga masih terbatas di sana. Sekelompok mahasiswa itu adalah Nur, Widya, Bima, Ayu, Anton dan Wahyu. 


Pas nonton itu, saya sama sekali belum baca tritnya. Dan ternyata setelah baca, ada beberapa adegan dalam trit yang nggak ada dalam film, dan ada adegan yang menurut saya beda dengan versi trit. Namun, terlepas dari itu, saya cukup menikmati filmnya, sih. Bagi yang mau nonton filmnya, disarankan untuk baca tritnya juga. 

Dari segi jalan cerita di film, cukup mudah dimengerti. Walaupun ada beberapa perpindahan adegan yang terkesan kayak lompat-lompat. Atmosfer horornya cukup terasa, jump scare-nya lumayan bikin kaget. Serta alunan musik, lagu-lagu khas sinden dan suara gamelan juga bakal bikin kamu merinding. Yang paling penting, sih, pesan moral di film ini dapet banget. Di mana bumi berpijak di situ langit dijunjung. Di mana pun kamu berada, sudah sepatutnya untuk menghormati dan mengikuti adat istiadat di tempat tersebut. 

Kalo I would say sih, saya akan kasih 7/10 untuk film ini karena kesuksesannya menghadirkan suasana horor. Namun, saya merasa ada beberapa teka-teki yang belum ada penjelasannya baik di film maupun di trit. Menurut kamu bagaimana? 

* Sumber gambar:
1. Market Bisnis
2. CNN Indonesia
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Apa yang identik dengan Jepang? Well, kebanyakan orang pasti akan menjawab manga, anime, gunung Fuji, Tokyo, Naruto, cecan dan cogan (?) wkwk. Oke, nggak membantah, sih. Saya tau Jepang karena dulu waktu kecil hobi banget nonton Naruto. 

Selain hal-hal di atas, ada juga yang terkenal dari Jepang. Yup, Live Action. Live Action ini merupakan sebutan untuk film yang diadaptasi dari manga dan anime, gaes. Contohnya apa? Banyak. Rurouni Kenshin, Attack on Titan, Death Note, Gantz, Parasyte, Bakuman, Inuyashiki dan masih banyak lagi. 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
[ Credit : bibithidup.blogspot.com ]
Ketika film ini pertama kali rilis, saya masih SD. Kalo nggak kelas lima, ya kelas enam. Waktu kecil, sampai SMK, saya seneng banget emang nonton film di TV, sampe dibela-belain begadang wkwk. Maklumlah, namanya juga hidup di desa, akses ke bioskop jauh sangat. 

Nah, waktu itu pas banget Mirror tayang di TV. Saya nontonlah itu. Tapi, karena kepotong-kepotong iklan jadi kurang puas nontonnya, ditambah lagi waktu itu masih bocah banget jadi belum begitu paham jalan ceritanya, wkwk.  

Dan sekarang, saya kembali teringat dengan film masa kecil saya itu. Film yang bener-bener ngebekas di hati. Akhirnya saya streaming Youtube sampe jam satu pagi, hwhw. Film horor, sih. Tapi, kok nyesek ya? 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
[ Credit Photo : Geeks and Com ]

Siapa yang nggak kenal film Resident Evil? Yup, film zombie yang diadaptasi dari video game itu akhirnya merilis The Final Chapter; film terakhir dari seri Resident Evil pada tanggal 27 Januari 2017 lalu. Sejak awal kemunculannya pada 2002, film tersebut sudah menarik perhatian para penggemar film, khususnya pecinta fiksi ilmiah horor.

Dan inilah, akhir dari perjalanan panjang Alice -but, I hope no. Film sejak saya masih SD sampai sekarang udah kepala dua. Film yang bener-bener keren di tiap chapter-nya. Explosion, action, bloods, ear-splitting noise. Yahh, walaupun agak-agak disturbing [namanya juga film zombie xD]

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

[ Credit Photo : Akibanation ]

Kemarin pas lagi bete, sambil browsing nggak jelas, tiba-tiba mikir, kok rasanya udah lama banget nggak nonton film Jepang. Duluuuu (entah kapan), pokoknya dulu banget, pengen lihat film judulnya The Eternal Zero. Alasannya? Karena starring-nya abang Haruma Miura. Serius! Bukan karena jalan ceritanya (koplak, kan? xD) Tapi sampai sekarang belum kesampaian juga. Nah, karena nggak ada option lain dan lagi males-malesnya googling lagi tentang film Jepang yang bagus, akhirnya saya memutuskan untuk download The Eternal Zero aja. 

Oke, karena kesibukan yang tiba-tiba menghadang saya di tengah jalan, terpaksa acara nonton filmnya diundur dulu. Ada kali 2 minggu file-nya saya diemin di LP. Dan setelah ada waktu luang, karena ternyata durasi filmnya lumayan panjang, finally, selesai juga nonton film bertema perang yang satu ini. 

Well, karena filmnya bagus pakai banget, saya bener-bener tergoda buat bikin review-nya. 

Share
Tweet
Pin
Share
6 komentar
Older Posts

ABOUT ME

About Me
Films maniac who loves smell of lemons and earth after the rain. Read horror stories and do lettering.

Popular Post

  • Resep-resep Unik in Game LifeAfter
    Udah pada tau game LifeAfter belom? Yup, di postingan sebelumnya, saya udah menceritakan tentang beberapa keunikan dan apa saja yang b...
  • Confessions, Kegilaan di Setiap Pengakuan
    Judul : Confessions Judul asli : Kokuhaku Penulis : Minato Kanae Penerjemah : Clara Canceriana, Andry Setiawan Cetakan Pertama : ...
  • 10 Lagu Lawas Ini Dijamin Bikin Kamu Merasa Balik ke Masa Lalu!
    Yuhuuu, karena bosan sama playlist yang itu-itu mulu, saya akhirnya mencoba untuk mencari-cari lagu-lagu lama. Lagu saat SD, SMP, poko...
  • Catatan Liburan di Taman Safari, Bogor
    Pokoknya, jalan-jalan emang nggak ada matinya. Seperti yang saya alami bersama dengan rekan-rekan kerja satu tim, akhir April lalu. Kam...
  • It's Not Just A Hobby, It's Life!
    Sampai sekarang, bahkan ketika saya merasa ada hobi-hobi lain yang lebih nge-hits dan kekinian, seperti traveling, kuliner, d...

Categories

Books Budaya Festival Film Foods Game Giveaway Hobby Indonesian Book Indonesian Film Jakarta Jejepangan K-Drama Kuliner Music Notes Novel One Ok Rock Place To Eat Review Romance Teenlit Tips & Tricks Travel True Story Visual Kei What to Eat Wisata Wonogiri Writing

Recent Post

    Blog Archive

    • ▼  2025 (4)
      • June 2025 (1)
      • May 2025 (1)
      • April 2025 (1)
      • March 2025 (1)
    • ►  2024 (5)
      • November 2024 (1)
      • September 2024 (2)
      • March 2024 (1)
      • January 2024 (1)
    • ►  2023 (9)
      • October 2023 (1)
      • September 2023 (2)
      • August 2023 (1)
      • June 2023 (1)
      • May 2023 (1)
      • March 2023 (1)
      • February 2023 (1)
      • January 2023 (1)
    • ►  2022 (9)
      • November 2022 (1)
      • October 2022 (1)
      • September 2022 (1)
      • August 2022 (1)
      • July 2022 (1)
      • June 2022 (1)
      • May 2022 (1)
      • March 2022 (1)
      • January 2022 (1)
    • ►  2021 (6)
      • November 2021 (1)
      • October 2021 (1)
      • September 2021 (1)
      • July 2021 (1)
      • April 2021 (1)
      • February 2021 (1)
    • ►  2020 (5)
      • December 2020 (1)
      • October 2020 (1)
      • June 2020 (1)
      • April 2020 (1)
      • February 2020 (1)
    • ►  2019 (7)
      • December 2019 (1)
      • October 2019 (1)
      • September 2019 (1)
      • August 2019 (1)
      • June 2019 (1)
      • March 2019 (1)
      • January 2019 (1)
    • ►  2018 (4)
      • September 2018 (1)
      • April 2018 (1)
      • February 2018 (1)
      • January 2018 (1)
    • ►  2017 (10)
      • December 2017 (1)
      • November 2017 (1)
      • October 2017 (1)
      • September 2017 (1)
      • August 2017 (2)
      • July 2017 (1)
      • May 2017 (1)
      • March 2017 (1)
      • February 2017 (1)
    • ►  2016 (14)
      • December 2016 (1)
      • November 2016 (2)
      • October 2016 (2)
      • August 2016 (2)
      • July 2016 (1)
      • June 2016 (1)
      • May 2016 (1)
      • April 2016 (2)
      • March 2016 (2)

    Follow My Blog

    Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates